Bab Tiga Puluh
Malam itu langit sudah sangat gelap. Ibu dan Ashu masih sibuk di dapur, sementara Duxing duduk di sana, merasa bosan tak ada kerjaan. Akhirnya, ia berkata pada Ashu bahwa ia ingin kembali ke kamar lebih dulu untuk tidur. Duxing bisa melihat Ashu seperti ingin mengatakan sesuatu padanya, jadi ia menunggu di tempat, namun Ashu hanya ragu-ragu, dan Duxing pun kembali ke kamar tanpa berkata apa-apa.
Duxing tidak tahu apa yang sedang dikerjakan Ashu dan ibu di dapur. Di dalam kamar, Duxing hampir tertidur, tapi Ashu belum juga kembali. Pintu dapur dibiarkan terbuka, suara percakapan antara Ashu dan ibunya sesekali terdengar samar. Sejak Duxing pergi, ibunya terus berbicara, dan Ashu hanya sesekali membalas. Duxing menajamkan telinganya, berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Namun, ia tak bisa menangkap apa pun. Tak lama kemudian, suara pintu halaman yang ditutup terdengar. Duxing terkejut—malam sudah larut, Ashu malah keluar rumah. Ke mana dia pergi? Di luar masih sangat gelap. Apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah?
Tiba-tiba Duxing sadar dengan apa yang ia lakukan. Apakah ia sedang mengkhawatirkan Ashu? Duxing merasa kesal pada dirinya sendiri. Apa urusannya dengan Ashu? Segala hal tentang Ashu, bukankah tak ada hubungannya dengan dirinya? Ia menarik selimut menutupi kepala, memaksa dirinya untuk tidur.
Dalam kantuk yang hampir membuai, Duxing tiba-tiba terbangun oleh suara pintu yang terbuka mendadak. Ia mengira Ashu yang kembali, jadi ia hanya membalikkan badan dan melanjutkan tidur. Ia mendengar seseorang berjalan ke arah ranjang, menarik kursi di dekat meja, dan duduk di sisi tempat tidur. Setelah itu, tak ada lagi suara apa-apa. Duxing bersabar menunggu cukup lama, tapi Ashu tidak juga naik ke tempat tidur. Ia mengerutkan dahi dan berbalik hendak bertanya pada Ashu, namun saat ia menoleh, ia terkejut.
Bukan Ashu, melainkan dua perempuan.
Salah satunya sudah pernah Duxing lihat, perempuan yang tadi siang berbincang dengan ibu di dapur. Yang satu lagi lebih muda, agak aneh, meski pakaiannya bersih, ia tampak sedikit linglung, sering memandangi jari-jarinya sendiri, berdiri di samping perempuan yang lebih tua dan kadang menggumamkan sesuatu. Duxing hampir yakin perempuan ini memang punya keunikan tersendiri—ya, unik.
Karena menunggu Ashu kembali, Duxing memang tidak mematikan lampu kamar. Perempuan itu duduk di tepi ranjang, menatap Duxing dengan seksama di bawah cahaya lampu yang temaram. Duxing tidak malu, ia balas menatap perempuan itu, membiarkan dirinya diamati.
“Cantik sekali gadis ini,” ujar perempuan itu dengan logat yang kental, menggunakan bahasa Indonesia gagap, mungkin sadar Duxing tidak mengerti bahasa daerah mereka. Suaranya mirip Ashu, penuh aksen. “Ashu benar-benar beruntung bisa menikahi istri secantik kamu. Desa kami miskin, Ashu benar-benar seperti mendapat rezeki. Kalau tidak, mana mungkin bisa dapat istri secantik ini.”
Duxing tidak tahu apa maksud perempuan itu. Ia hanya duduk diam di atas ranjang, membiarkan perempuan itu memuji, dan sama sekali tidak tergerak oleh kata-katanya. Melihat Duxing enggan membalas, perempuan itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicara.
“Nak, tante akan bicara terus terang saja. Karena kamu sudah menikah dengan Ashu, lebih baik kamu menetap di sini, jalani hidup dengan tenang bersama Ashu. Sudah cukup lama kamu di sini, pasti kamu juga sudah tahu Ashu orang baik, dia orang yang bertanggung jawab. Tante tahu kamu orang kota, pasti tidak suka hidup di pegunungan seperti ini. Tapi, coba kita pikirkan, apa sih yang diinginkan perempuan dalam hidup ini? Bukankah cuma ingin punya rumah, punya suami yang sayang, yang bertanggung jawab, dan bisa hidup tenang bersama? Selama ini, tante lihat sendiri, Ashu benar-benar menyayangimu. Waktu kamu kabur kemarin itu saja, Ashu sampai kalang kabut mencarimu, lebih panik dibanding kalau dia sendiri yang sakit. Sekarang kalian sudah punya anak. Dengar nasihat tante, tetaplah di sini, jalani hidup baik-baik bersama Ashu...”
Duxing akhirnya mengerti, perempuan ini utusan yang diminta Ashu untuk membujuknya tetap tinggal. Duxing hanya bisa tertawa dingin dalam hati. Sampai-sampai anak pun dijadikan alasan, dan masih saja menganggap Ashu orang baik—orang baik?
Perempuan itu berbicara panjang lebar, namun Duxing tetap tak menggubrisnya. Melihat Duxing tidak peduli, perempuan itu lalu meraih lengan perempuan muda di sampingnya, mendekat ke ranjang. “Nak, jangan tidak percaya dengan kata tante. Walaupun desa kami miskin, orang-orang di sini jujur dan tulus. Lihat menantuku ini, dia memang punya kekurangan, kadang bahkan anaknya sendiri tidak dikenalnya, tapi kami tetap memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Bertahun-tahun, anak laki-laki tante tetap menyayanginya.”
“Dia juga dikurung oleh anak laki-laki tante?” tanya Duxing dengan nada marah, mengira perempuan muda itu punya nasib yang sama dengannya—dipisahkan dari orangtua.
Perempuan itu tertawa, akhirnya Duxing mau bicara. “Tentu saja bukan, dia memang asli orang desa kami. Anak tante sudah cukup umur untuk menikah, tapi karena kami miskin, kebetulan di desa sebelah ada perempuan yang kurang sehat, lalu kami carikan jodoh melalui mak comblang. Sekarang, mereka tetap hidup baik-baik.”
Perempuan itu bicara seolah mulia dan penuh kasih, tapi dari kata-katanya, Duxing bisa merasakan betapa ia sebenarnya tidak suka pada menantunya, selalu menyebut-nyebut kekurangan si menantu. Duxing merasa sangat muak, tidak ingin bicara lagi.
Setelah cukup lama bicara, mungkin merasa sudah cukup, perempuan itu pun pamit dan keluar kamar.
Begitu perempuan itu pergi, Ashu masuk. Tiba-tiba Duxing merasa sangat benci; ia tahu perempuan tadi pasti utusan Ashu. Saat Ashu naik ke tempat tidur, Duxing pura-pura tidur, tidak berkata sepatah pun. Ashu mematikan lampu, naik ke ranjang, dan seperti biasa memeluk Duxing dari belakang.
Beberapa hari ini, hubungan Duxing dan Ashu tampak biasa saja, setidaknya di permukaan semuanya terlihat tenang. Ashu juga jarang keluar rumah belakangan ini, lebih sering menemani Duxing di rumah. Kadang, Ashu juga mengajak Duxing keluar berjalan-jalan. Perempuan yang pernah datang malam itu juga sering berkunjung, bahkan membawa seorang anak kecil. Tampak jelas, anak itu adalah anak laki-lakinya, wajah mereka persis sama.
Duxing tidak punya banyak bahan pembicaraan dengan mereka. Ia hanya tersenyum dan menjawab seadanya jika ditanya. Lebih sering, ia hanya duduk di samping Ashu mendengarkan mereka berbincang.
Saat perempuan itu datang membawa anak kecil, Duxing sering memperhatikan si kecil bermain di pangkuan ibunya. Anak itu, melihat perempuan asing yang sangat berbeda dari ibunya sendiri menatapnya, jadi malu dan bersembunyi di pelukan ibunya. Namun, sesekali, ia akan mengintip Duxing diam-diam.
Melihat itu, Duxing tak bisa menahan tawa. Ia pun spontan mengelus perutnya sendiri. Padahal ia bukan orang yang suka anak-anak, namun sekarang, melihat anak kecil, ia tak bisa menahan diri untuk membayangkan seperti apa anak yang akan dilahirkannya nanti. Jika laki-laki, apakah akan seperti Ashu, berwajah serius dan mata yang penuh ketegasan? Apakah matanya akan seperti dirinya, atau mungkin bibirnya seperti Ashu?
Semakin dipikirkan, Duxing merasa sedih. Hubungan dirinya dan Ashu sebenarnya tidak diakui. Jika benar-benar melahirkan anak ini, apa yang harus ia lakukan? Apa ia benar-benar rela tetap tinggal di sini? Bagaimana ia akan menghadapi Ashu?
Duxing berpikir, ia tidak boleh lemah hati. Hal terpenting sekarang adalah menggugurkan anak ini. Tapi bagaimana caranya? Duxing pun merasa sangat bimbang.