Bab Seratus Tujuh Belas: Di Bawah Cakrawala 42
Sekitar pukul sepuluh pagi.
Orang-orang yang melarikan diri tadi kembali lagi. Mereka membawa lebih banyak penyintas dan mengepung vila tersebut dengan rapat. Perkiraan kasar, jumlahnya sekitar lima ratus orang. Mungkin itu adalah sisa seluruh penduduk kota setelah kejadian tadi malam. Di antara mereka, ada yang membawa senjata api. Seseorang menembakkan pistol ke arah vila hingga kaca-kaca jendela hancur berantakan. Mereka bersikap sangat arogan, seolah-olah vila itu sudah berada dalam genggaman mereka.
Fu An'an mengangkat senapannya untuk membalas, langsung merobohkan sekelompok orang. Fu Yizhi bahkan lebih hebat lagi, dia adalah penembak jitu yang setiap pelurunya tepat sasaran. Ratusan orang itu berhasil ditekan oleh mereka berdua, membuat mereka tidak berani maju. Namun, lawan mereka juga bukan orang sembarangan. Mereka mengulangi taktik yang sama seperti saat menyerang kantor polisi. Sejumlah besar kayu yang belum terbakar habis digunakan sebagai bom asap dan dilemparkan ke dalam halaman.
Asap tebal membubung tinggi, menutupi pergerakan mereka, dan orang-orang di luar memanfaatkan tabir asap itu untuk mulai memanjat pagar. Namun, Fu An'an dan Fu Yizhi tidak bodoh. Karena tidak bisa melihat di mana musuh berada, mereka langsung menembaki area pagar secara membabi buta. Banyak orang tewas terkena tembakan. Sementara yang lain, karena pandangan mereka terhalang asap pekat, malah tersandung di atas hamparan pecahan kaca yang telah disiapkan Fu An'an. Jeritan kesakitan terdengar bersahutan.
Meski begitu, hal tersebut tidak memadamkan tekad mereka untuk menerobos masuk. Pintu gerbang digebrak dengan keras hingga berdentum-dentum, namun tetap tidak bergeming. Ada juga yang mencoba mengelilingi vila untuk mencari celah agar bisa memanjat masuk, tetapi mereka mendapati sekeliling bangunan itu sudah dibersihkan dari apa pun yang bisa dipanjat.
"Kak Li, gerbang keluarga ini sudah dilas mati dengan pelat baja. Vila ini juga tidak bisa dipanjat."
Vila yang tadinya indah itu kini hampir berubah menjadi sebuah bungker. Hal ini justru membuat orang-orang di luar semakin yakin bahwa di dalam sana pasti tersimpan banyak persediaan. Pria yang dipanggil Kak Li itu menatap vila dengan tajam, "Suruh orang melempar dua granat terakhir, ledakkan vila ini untukku."
Fu An'an sedang membersihkan orang-orang yang berhasil masuk ke halaman ketika orang-orang yang mengepung gerbang tiba-tiba berpencar. Fu An'an melihat seseorang mengangkat sesuatu dan melemparkannya ke depan pintu vila sebelum dia sempat bereaksi.
"Tiarap!"
Fu Yizhi menekan tubuh Fu An'an dengan satu tangan, lalu segera berbalik. Kaca yang tadinya belum hancur sepenuhnya kini meledak dan berhamburan, membuat vila itu berguncang hebat beberapa kali.
"Kak Fu, apakah Anda baik-baik saja?"
Fu Yizhi tadi melindungi Fu An'an dengan tubuhnya sendiri, punggungnya terkena serpihan kaca.
"Aku tidak apa-apa."
Fu Yizhi melirik ke lantai bawah, alisnya sedikit mengernyit. "Aku akan turun untuk memeriksa, kau jaga di sini."
"Baik."
Fu An'an menggenggam senjatanya hingga buku jarinya memutih. Lawan mereka berjumlah empat sampai lima ratus orang. Mereka yang mampu bertahan hidup hingga saat ini bukanlah orang yang berhati mulia. Jika mereka kalah, mereka pasti akan disiksa habis-habisan oleh orang-orang di bawah sana. Menang berarti hidup, kalah berarti mati. Keringat sebesar biji jagung mengalir di pipi Fu An'an.
Setelah menikmati kehidupan yang tenang selama lebih dari setengah bulan, sekali saja mereka tidak mampu bertahan, maka asuransi nyawa dalam hidupnya harus segera berlaku. Namun, dia belum ingin mati. Ini hanyalah sebuah permainan. Fu An'an menarik napas dalam-dalam, lalu menembaki para NPC di lantai bawah tanpa ampun.
Bukan hanya senjata api. Fu An'an mengeluarkan granat yang disiapkan oleh Fu Yizhi, mencabut pengamannya dengan jari kelingking, dan melemparkannya ke tempat yang paling banyak orang. Saat Fu An'an menjulurkan tubuh, peluru lawan menghujani ke arahnya. Lengannya terserempet peluru, darah dengan cepat membasahi lengan bajunya. Sesaat kemudian, ledakan terjadi di lantai bawah. Fu An'an mungkin tidak terlalu mahir menembak, tetapi dia sangat akurat saat melemparkan granat meski dengan mata tertutup. Mengandalkan satu orang, dia berhasil menahan pergerakan seratusan orang.
Fu An'an tidak berani menoleh ke belakang, juga tidak berani memikirkan mengapa Fu Yizhi belum kembali ke atas. Dia membunuh siapa pun yang ada di bawah secara mekanis dan mati rasa. Dalam waktu satu setengah jam, jumlah lawan berkurang sepertiganya. Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah hingga pukul 11:30 siang. Saat momen mencekam akan tiba, orang-orang di bawah akhirnya berpencar. Namun, Fu An'an tahu ini bukanlah akhir. Sambil memeluk senjatanya, Fu An'an bersandar di dinding dan terengah-engah. Bahkan untuk minum seteguk air pun dia tidak sempat, dia segera berbalik dan turun ke bawah dengan panik untuk memastikan apakah Fu Yizhi baik-baik saja.