Bab 139: Gua yang Mewah
Setelah beberapa kali mengamati keadaan sekitar dan memastikan kawanan Kalajengking Giok Es telah pergi, Mu Ran membawa Gongyang Mo ke tempat kawanan Ulat Sutra Es berdiam.
Yang terlihat tetap hamparan salju putih tanpa batas. Gongyang Mo bertanya dengan heran, “Di sini benar-benar ada banyak Ulat Sutra Es? Kenapa aku tidak melihat satu pun?”
Mu Ran terkekeh. “Tentu saja mereka tidak akan membiarkanmu melihat mereka dengan mudah. Makhluk jiwa seperti Ulat Sutra Es memang lemah, tetapi mereka pandai bersembunyi dan sangat sulit ditemukan. Sekarang, tahan seluruh auramu sebisa mungkin, seperti yang kulakukan.”
Gongyang Mo tidak tahu mengapa ia harus menahan auranya, tetapi ia tetap mengikuti perkataan Mu Ran.
Mereka terus berjalan sambil menahan aura. Tiba-tiba, Gongyang Mo berteriak, “Mu Ran, itu kalajengking hijau yang tadi! Itu kalajengking yang sama!”
Dengan jari gemetar, Gongyang Mo menunjuk seekor Kalajengking Giok Es di depan mereka. Setelah mendapat penjelasan Mu Ran sebelumnya, di dalam benaknya Kalajengking Giok Es telah menjadi makhluk jiwa yang sangat mengerikan—makhluk yang sama sekali tidak boleh mereka usik.
Lima cincin jiwa muncul di bawah kaki Mu Ran. Begitu Roh Bela Diri Teratai Dewa Salju muncul, Kalajengking Giok Es itu tiba-tiba pecah, seolah-olah cermin yang jatuh dan hancur. Dalam sekejap, sosoknya lenyap.
Sebuah jaring dilemparkan ke arah tempat Kalajengking Giok Es tadi berada, lalu menangkap seekor ulat besar yang putih dan gemuk.
“Apa yang terjadi?” tanya Gongyang Mo. Ia benar-benar tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Bagaimana mungkin Kalajengking Giok Es itu tiba-tiba pecah begitu saja?
“Itu tadi hanya ilusi, bukan sesuatu yang nyata,” jelas Mu Ran. Ia menyuruh Gongyang Mo menahan auranya agar tidak mengejutkan Ulat Sutra Es yang penakut, sekaligus ingin memperlihatkan kepadanya cara kerja ilusi.
Gongyang Mo merasa hal itu sulit dipercaya. “Bagaimana ilusi itu bisa begitu nyata? Tekanan dan aura Kalajengking Giok Es tadi hampir tidak berbeda dari yang sebelumnya!”
“Itulah yang belum kau pahami. Makhluk jiwa seperti Ulat Sutra Es sangat lemah dan hampir tidak memiliki kemampuan bertarung. Kalau begitu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Ulat Sutra Es adalah makhluk jiwa berelemen mental, jenis yang sangat langka. Kekuatan spiritual mereka amat kuat. Mereka pandai mengamati, meniru, dan menyembunyikan diri. Jika bertemu makhluk jiwa atau manusia yang ingin menangkap mereka, mereka akan menirukan sosok makhluk jiwa yang lebih kuat untuk menakuti dan mengusir musuh. Ilusi yang kaulihat tadi dibuat oleh Ulat Sutra Es. Bagaimana? Sangat nyata, bukan?” Mu Ran memandang Gongyang Mo dengan geli.
Gongyang Mo mengangguk. Wilayah Utara yang Ekstrem ini benar-benar berbahaya. Bahkan makhluk jiwa seperti Ulat Sutra Es, yang tidak memiliki kemampuan bertarung, tetap tidak boleh diremehkan.
Sesampainya di depan jaring, ia melihat ulat besar yang putih dan gemuk itu menggeliat-geliat di dalamnya. Permukaan tubuhnya menyerupai batu giok putih berkualitas tinggi, bahkan memancarkan kilau samar.
Makhluk jiwa di Wilayah Utara yang Ekstrem memang memiliki penampilan luar biasa, pikir Gongyang Mo kagum. Kalajengking Giok Es begitu, Ulat Sutra Es juga begitu.
Mu Ran mengangkat jaring tersebut, mengambil Ulat Sutra Es yang gemuk itu, menimbang-nimbangnya di telapak tangan, kemudian memasukkannya ke dalam alat penyimpanan berpemandu jiwa khusus yang ia bawa dari balai misi.
“Sudah melihatnya? Menangkap makhluk jiwa seperti Ulat Sutra Es sebenarnya sangat mudah. Yang paling penting adalah mengatasi rasa takut terhadap ilusi. Mari kita mulai!”
Bagi Mu Ran, menangkap Ulat Sutra Es benar-benar perkara sepele dan sama sekali tidak membutuhkan teknik khusus. Ia menyelesaikan tugas itu dalam waktu singkat, bahkan sempat menangkap beberapa Ulat Sutra Es berusia sepuluh ribu tahun.
Gongyang Mo berbeda. Setelah bersusah payah menemukan lokasi Ulat Sutra Es, ia masih harus menahan siksaan ilusi sebelum akhirnya berhasil menangkapnya. Setelah berjibaku selama satu jam, ia hanya mendapatkan empat ekor.
“Tidak bisa, tidak bisa! Mentalku sudah tidak sanggup menanggung siksaan ini. Aku menyerah, aku menyerah!” Gongyang Mo terduduk lemas di atas salju. Ia tidak sedang melebih-lebihkan; kekuatan spiritualnya memang telah terkuras sangat besar.
“Kita sudah melampaui target misi. Tidak perlu menangkap lagi. Beristirahatlah sebentar, setelah itu kita pergi,” kata Mu Ran sambil tersenyum. Menurutnya, penampilan Gongyang Mo sebenarnya sudah cukup baik.
“Pergi? Meninggalkan Wilayah Utara yang Ekstrem?” Gongyang Mo mendongak dan bertanya. Entah mengapa, ia merasa sedikit enggan.
“Bukan. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Setelah Gongyang Mo cukup beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan, Mu Ran menggunakan Teratai Dewa Salju untuk mengusir makhluk-makhluk jiwa di sekitar mereka, lalu membawa Gongyang Mo ke lingkaran inti Wilayah Utara yang Ekstrem.
“Mu Ran, kenapa semakin lama semakin dingin? Teratai Dewa Saljumu sepertinya sudah tidak banyak membantu!” tanya Gongyang Mo sambil menggigil. Ia memperhatikan bahwa keadaan sekitar tidak lagi diliputi badai salju seperti sebelumnya, melainkan sunyi dengan cara yang aneh.
“Karena kita sudah berada di bagian dalam Wilayah Utara yang Ekstrem.” Mu Ran tidak berani mengatakan bahwa mereka telah tiba di lingkaran inti, karena takut membuat Gongyang Mo panik.
Namun Gongyang Mo tetap ketakutan. Ia langsung menarik Mu Ran dan hendak mengajaknya pergi. Tempat ini terlalu berbahaya.
“Jangan terburu-buru. Kita sudah sampai.”
Melihat pegunungan salju yang menjulang di hadapan mereka, Gongyang Mo bertanya, “Untuk apa kau membawaku ke pegunungan salju? Apa kau tahu ada berapa banyak makhluk jiwa di dalamnya? Ini terlalu berbahaya. Selagi kita belum bertemu makhluk jiwa, cepatlah kita kembali.”
“Tenang saja. Ikuti aku.”
Mu Ran menarik Gongyang Mo hingga tiba di depan sebuah tirai cahaya. Tirai cahaya itu adalah pelindung yang dipasang oleh Kaisar Salju.
Gongyang Mo melihat kedua tangan Mu Ran bergerak cepat membentuk suatu pola. Tirai cahaya itu beriak, kemudian membuka sebuah celah. Mu Ran segera menariknya masuk.
“Wah, tempat ini indah sekali,” puji Gongyang Mo.
Di balik tirai cahaya terdapat sebidang tanah lapang kecil. Di sana ada sebuah kolam mungil yang dipenuhi ikan salju. Tepi kolam itu dihiasi batu-batu kristal biru. Bersama riak air yang berkilauan, seluruh tempat tersebut tampak memancarkan cahaya gemerlap.
Tidak jauh dari kolam, di sebidang tanah lainnya, tumbuh bunga-bunga Api Es. Di samping hamparan bunga itu terdapat teratai salju, ginseng salju, serta berbagai tanaman yang tidak dikenal Gongyang Mo.
Di depan taman kecil dan kolam tersebut terdapat sebuah meja bundar serta beberapa kursi yang seluruhnya dibuat dari batu giok putih berlapis kaca.
Di bagian belakang terdapat sebuah gua. Pintu masuknya dihiasi manik-manik laut es. Saat memasuki gua, Gongyang Mo melihat langit-langitnya dilapisi kepingan-kepingan kristal es. Nilai kristal-kristal itu memang tidak terlalu tinggi, tetapi keindahannya luar biasa. Terlebih lagi, melapisi seluruh langit-langit gua tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Dekorasi di dalam gua juga sangat mewah. Di bagian tengah berdiri sebuah ranjang besar yang tembus pandang, dibuat dari es laut dalam berusia sepuluh ribu tahun. Di atasnya terbentang selimut yang dibuat dari lapisan bulu rubah salju. Dari langit-langit gua menjuntai tirai sutra es berwarna putih bening.
Di salah satu sisi terdapat sebuah dipan kaca yang lembut, dengan kulit macan tutul terbentang di atasnya. Dipan dan ranjang itu dipisahkan oleh tirai manik-manik. Pada tirai tersebut teruntai mutiara-mutiara berwarna-warni.
Gongyang Mo mengenali mutiara-mutiara itu. Mutiara tersebut dihasilkan oleh makhluk jiwa bernama Kerang Pelangi, yang biasanya hidup di laut dalam atau di dasar sungai es. Makhluk jiwa itu sangat langka.
Ketika melihat lantai yang dipijaknya, yang dilapisi ubin dari kristal biru, Gongyang Mo tidak mampu menahan diri untuk berkata, “Mu Ran, jangan bilang tempat ini milikmu. Aku akan iri setengah mati.”
“Kalau begitu, silakan iri. Memang di sinilah aku tinggal,” jawab Mu Ran terus terang.
Sebenarnya, tempat ini adalah lokasi tempat Mu Ran berlatih selama enam tahun setelah berubah wujud. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, gua yang dahulu kosong dan tandus itu telah berubah sepenuhnya.
Mu Ran sudah lama menatanya menjadi sangat indah. Terkadang, ketika pulang berlibur ke Wilayah Utara yang Ekstrem, ia akan tinggal di sini.
Barang-barang di tempat ini tampak sangat berharga, tetapi sebenarnya Mu Ran tidak mengeluarkan banyak uang. Sebagian besar diperoleh dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Misalnya, kristal biru dan kristal es sangat mudah dikumpulkan.
Bunga Api Es diambilnya dari Naga Es Raksasa, sedangkan teratai salju, ginseng salju, dan berbagai tanaman lainnya tumbuh berlimpah di pegunungan salju.
Manik-manik laut es, mutiara warna-warni, bulu binatang, dan berbagai benda lainnya ada yang diberikan oleh para makhluk buas, ada pula yang dipersembahkan oleh makhluk-makhluk jiwa lain kepadanya.
Gongyang Mo masih terus mengagumi pemandangan di dalam gua. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan buru-buru bertanya, “Apa yang barusan kaukatakan? Kau tinggal di sebuah gua di bagian terdalam Wilayah Utara yang Ekstrem? Di sini?”
“Apa yang kaupikirkan? Jangan mengarang macam-macam. Aku jarang tinggal di sini. Tempat ini... tempat ini ditata dengan bantuan keluargaku. Anggap saja sebagai markas.”
Setelah mendengar penjelasan Mu Ran, dalam sekejap Gongyang Mo membayangkan sebuah keluarga tersembunyi yang misterius dan kuat, yang telah tinggal di wilayah utara selama beberapa generasi. Mereka bahkan begitu kuat hingga mampu membangun tempat tinggal di Wilayah Utara yang Ekstrem dan menempatkan orang-orang untuk menjaganya.
Ya ampun! Tidak heran Mu Ran begitu memahami Wilayah Utara yang Ekstrem.
Melihat ekspresi Gongyang Mo, Mu Ran tahu persis apa yang sedang dipikirkannya. Justru karena kemampuan Gongyang Mo dalam mengembangkan imajinasi sangat luar biasa, Mu Ran memilih membawanya kemari. Dengan imajinasi yang bekerja sendiri, ia tidak perlu repot-repot menjelaskan apa pun. Sungguh praktis!