Bab 29: Beraninya Kau Menggigitku
Keteguhan yang selama ini ia jaga runtuh seketika.
Jiang Huiyin menundukkan kepala, enggan menatap lawan bicaranya. Di balik mata Jiang Wuxiang, tersimpan hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada es. Seseorang yang mampu membolak-balikkan keadaan dengan satu ayunan tangan, pada dasarnya bukanlah insan yang memiliki belas kasih.
"Paman, Anda terlalu khawatir."
Jiang Wuxiang membalas, "Khawatir berlebih selalu lebih baik daripada bersikap bodoh."
"Aku tidak begitu."
Kesabaran Jiang Wuxiang habis. Tanpa diduga, ia mencengkeram dagu gadis itu dan memaksanya mendongak. "Tatap mataku dan katakan itu lagi!"
Meski ditanya seribu atau sepuluh ribu kali pun, ia akan tetap menjawab hal yang sama: "Aku tidak begitu."
Telapak tangan Jiang Huiyin telah dibasahi keringat dingin. Ia tidak mampu membaca apa yang akan diucapkan pria itu selanjutnya, atau apakah gerakan berikutnya adalah mencekiknya hingga mati atau justru melepaskannya.
"Paman, bukankah Anda bilang Anda memercayaiku?"
Jiang Wuxiang berujar dengan nada berat dan dingin, "Mulut, tangan, dan kakimu ada padamu. Berpura-pura patuh namun bertindak di belakang, serta mengambil keputusan sendiri sudah menjadi kebiasaanmu. Kau masih saja berbohong."
Jiang Huiyin membelalakkan mata, tak sepatah kata pun terucap.
Perasaan khusus yang dimiliki Jiang Huiyin terhadap Ji Zhenshu tidak bisa disembunyikan darinya. Ia tidak peduli hubungan macam apa yang pernah terjadi di antara mereka, sebab Jiang Huiyin tidak akan pernah bisa lolos dari kendalinya.
Setelah terdiam cukup lama, Jiang Huiyin berterus terang, "Benar, bagiku, Ji Zhenshu adalah sosok yang berbeda."
Sangat sulit mendapatkan uluran tangan di saat genting. Pria dengan kekuasaan mutlak seperti Jiang Wuxiang tidak akan pernah memahami bagaimana ia bisa begitu berterima kasih atas secercah belas kasih yang ia terima saat sedang sekarat.
Jiang Wuxiang menyipitkan mata. "Kau sudah gila."
"Apa maksud Paman dengan perkataan itu?"
"Dia akan menjadi kelemahanmu."
Jiang Huiyin tersenyum tipis. "Itu hanya membuktikan bahwa aku tidak kompeten. Jika aku berhasil menduduki posisi tinggi, tak akan ada seorang pun yang bisa melukainya sedikit pun."
"Dia termasyhur sejak muda dan kariernya melesat bagai anak panah. Di seluruh Nan Jiang, ia adalah sosok yang dipuja dan diagungkan. Tidakkah Paman seharusnya merasa senang? Orang yang disukai Chang Yu adalah pria yang luar biasa."
Jiang Wuxiang tertawa sinis. "Apa arti rasa sukamu itu?"
Napas Jiang Huiyin tidak beraturan, ia menahan gemetar. "Artinya aku harus bisa berdiri sejajar dengannya."
Jiang Huiyin tetaplah Jiang Huiyin, seorang egois yang jika menginginkan sesuatu, maka ia harus mendapatkannya.
"Kau merendahkan martabatmu sendiri."
"Ia adalah sosok yang suci dan mulia, akulah yang memanjat tinggi untuk mencemarinya." Jiang Huiyin bersikeras membela nama baik Ji Zhenshu.
Ekspresi Jiang Wuxiang kian muram dan penuh amarah, seolah hendak menelan sosok Jiang Huiyin yang kini tampak lemah.
***
"Chang Yu, kurasa kau benar-benar sudah sakit parah. Kau dan Ji Zhenshu sama sekali tidak serasi, kalian bukan berasal dari dunia yang sama."
Bagaimana mungkin ia tidak mengetahuinya?
Namun, mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut pamannya terasa seperti pisau tajam yang perlahan membedah isi hatinya yang kotor, lalu memvonis bahwa dirinya berhati kejam dan tidak layak untuk Ji Zhenshu.
Jiang Huiyin berkata dengan nada pasrah, "Tapi aku hanya menginginkan dia..."
Belum sempat kalimat itu tuntas, wajah Jiang Wuxiang tiba-tiba mendekat, begitu dekat hingga pandangan mereka terkunci. Tidak ada lagi jarak di antara keduanya; bibir mereka pun bersentuhan. Kalimat itu tampaknya telah benar-benar memancing amarahnya, membuatnya kehilangan akal sehat dan menciumnya dengan liar serta tak terkendali.
"Mmm..."
Jiang Wuxiang mampu mencekik lehernya hanya dengan satu tangan. Telapak tangan dan bibirnya merampas paksa setiap erangan dari mulut gadis itu. Rasa sesak dan tekanan yang hebat menghantam kepalanya bagaikan ombak yang menggulung. Ia ingin melepaskan diri, namun cengkeraman pria itu justru semakin kuat, memaksanya untuk terus menerima.
Jiang Wuxiang hampir gila, begitu pula Jiang Huiyin.
Satu orang berjuang keras untuk melepaskan diri, sementara yang lain mencengkeram titik vitalnya, merenggut dengan paksa.
Bibir panas pria itu menggilas bibir bawahnya yang merona, meninggalkan jejak merah muda yang memikat namun terlihat menyakitkan. Jiang Huiyin merasa takut sekaligus terkejut. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencakar bahu pria itu hingga meninggalkan luka, namun tetap tidak mampu mendorongnya menjauh.
Napas mereka saling beradu dengan kasar. Hembusan napas Jiang Wuxiang menyapu bibir dan hidungnya. Jiang Huiyin gemetar hebat, menahan napas untuk menanggung kekejamannya.
Tak tahan lagi, ia membuka mulut dan menggigit bibir pria itu hingga berdarah. Rasa anyir darah menyebar di antara mereka. Jiang Wuxiang tertegun sejenak, lalu menarik wajahnya, membiarkan gadis itu bernapas sejenak.
Ia mengusap bibirnya dengan ibu jari, meninggalkan noda darah di sana.
Jiang Huiyin bernapas tersengal-sengal seolah baru saja selamat dari maut, matanya berkaca-kaca.
"Jiang Wuxiang... kau gila... mmm!"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, wajah Jiang Wuxiang kembali menekan, membungkam sumpah serapah itu. Pria itu bahkan sengaja mengoleskan darah dari bibirnya ke bibir lembut gadis itu, memaksanya merasakan rasa manis yang amis dari darah tersebut.
"Kau berani menggigitku..."
Jiang Huiyin gemetar lebih hebat, jauh lebih rapuh daripada dedaunan kering yang berguguran di musim gugur. Isak tangisnya pecah. Jiang Wuxiang merasakan sesuatu yang asin; itu adalah air matanya.
Sepertinya, ini pertama kalinya ia melihat gadis itu menangis sedih.
Jiang Wuxiang akhirnya berhenti, menyandarkan dahinya di dahi gadis itu. Napas mereka yang tadinya saling menolak, kini perlahan menyatu.
"Jiang Huiyin, kau bisa mencobanya, lihat sejauh mana aku bisa bertindak."
"Coba tebak, bagaimana pandangan Ji Zhenshu padamu saat ia melihatmu nanti?" Jiang Wuxiang menyeringai jahat, sama sekali tidak mempedulikan nasib gadis itu.
Jiang Huiyin kini membeku, berada di ambang kehilangan akal sehat.
"Bagaimana bisa kau..." Jiang Huiyin mengertakkan gigi, "mengabaikan norma, tidak bermoral dan tak tahu malu..."
Jiang Wuxiang memperingatkan dengan dingin, "Aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Memangnya kenapa jika aku adalah pamanmu?"
Dua kata "hubungan darah" itu terdengar sangat konyol.
***
Jiang Huiyin terperangah. Segala aturan dan norma yang selama ini ia junjung tinggi runtuh seketika. Ia meringkuk, tubuhnya ditopang oleh tangannya sendiri, sementara air mata yang mengalir deras menetes ke atas gaunnya, membasahi kain dengan sia-sia.
"Ikuti kemauanku, atau tetap keras kepala, pilihlah sendiri." bisik Jiang Wuxiang tepat di telinganya.
***
Jiang Huiyin tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur.
Ia tidak berani mengingatnya kembali.
Teror dan kegilaan Jiang Wuxiang.
Apakah takdirnya memang harus terjerat dalam hubungan terlarang dengan pamannya sendiri?
Jiang Huiyin duduk bersandar di ranjang. Makanan yang diantarkan telah dingin berkali-kali, namun ia tidak menyentuhnya sedikit pun.
Ia tidak memiliki nafsu makan. Rasa mual yang pekat itu terus menghantuinya.
Wanyu sangat ingin membuka paksa mulut tuannya untuk menyuapinya, namun melihat tatapan kosong Jiang Huiyin hanya membuatnya merasa kasihan.
"Yang Mulia, sudah genap satu hari. Jika Anda tidak makan, Anda bahkan tidak akan memiliki tenaga untuk melangkah keluar," bujuk Wanyu terus-menerus.
Entah apa yang dilakukan Pangeran Yu hingga membuat tuannya tertekan sedemikian rupa.
Wanyu merasa sesak di dadanya. Meski sendok telah disodorkan ke bibir sang putri, gadis itu tetap bergeming.
"Yang Mulia! Bukankah Anda sendiri yang bilang ingin tetap hidup? Jika Anda terus tidak makan dan minum seperti ini, menyiksa diri sendiri, apa gunanya?"
Ketegasan Wanyu akhirnya menarik kesadaran sang putri kembali. Jiang Huiyin bergumam pelan, "Aku... aku telah diincar olehnya..."
Oleh seorang pria yang mustahil untuk dilawan.
Ia mampu mempermainkan keluarga Chi dan Chi Ye di telapak tangannya, namun Jiang Wuxiang berbeda. Ia mengandalkan kekuasaan dan jaringan pria itu, semua taruhannya berada di tangan pria tersebut...
Jiang Huiyin mencengkeram tangan Wanyu dan bertanya, "Wanyu, katakan padaku, apakah benar dulu ia hampir dihukum mati karena asal-usulnya dipertanyakan?"
"Dia... dia bukan paman kandungku..."
"Apakah benar? Wanyu, katakan padaku!"
"..."
Betapa pun gilanya dia, betapa pun semaunya tindakannya, ia tidak akan bisa secara terang-terangan terikat dengan keponakan kandungnya sendiri.
Bagaimana rakyat Nan Jiang akan memandangnya?
Selama ini, stigma buruk selalu dibebankan kepada pihak wanita.
Wanyu membalas genggaman tangannya, "Memang benar ada desas-desus seperti itu pada masa lalu. Hanya saja, tidak jelas bagaimana Putra Mahkota Jingzhen meredam amarah Kaisar terdahulu dan menyelamatkan nyawa Pangeran Yu..."