Bab 146 Kota Makam, Kota Berkabut 19

Menjadi Ikan Keberuntungan dalam Permainan Bertahan Hidup Aroma padi musim panas 1291kata 2026-03-30 03:56:39

Sore itu, Fu An'an pergi keluar lagi.

Ia berniat mendapatkan mayat yang telah menjadi inang parasit.

Alangkah lebih baik lagi jika ia bisa mengetahui apa sebenarnya yang bersembunyi di balik kabut tebal itu.

Namun, ia tidak berani mengenakan helmnya. Benda itu terlalu mencolok, dan ia takut dikenali orang lain.

Sebagai gantinya, ia melilitkan syal ke seluruh kepalanya, hanya menyisakan kedua matanya yang terbuka.

Baginya, menutupi diri rapat-rapat dengan benda apa pun adalah hal yang bijak, lagipula kehati-hatian adalah kunci keselamatan.

Keluar dari hotel, Fu An'an mengendarai skuter listriknya menuju supermarket untuk membeli dua buah koper berukuran besar, lalu langsung menuju ke tempat persewaan mobil.

Saat hendak melakukan pembayaran, pemilik toko mengulurkan tangannya. "Tunjukkan kartu identitas dan surat izin mengemudi Anda."

Fu An'an menggelengkan kepala. "Aku tidak punya surat izin mengemudi."

Dalam beberapa hari singkat ini, ia memang sudah belajar mengendarai mobil, tetapi surat izin mengemudinya belum sempat ia urus.

Siapa sangka permainan ini begitu tidak masuk akal, bisa menyamakan kondisi dunia game dengan dunia nyata secara persis. Jika memiliki surat izin mengemudi di dunia nyata, permainan ini bahkan bisa menyiapkan replika yang sama persis di dalam dunia game.

Mendengar itu, pemilik toko meliriknya sekilas. "Kalau tidak punya surat izin mengemudi, untuk apa kamu menyewa mobil?"

"Aku punya uang."

Fu An'an mengeluarkan kartu banknya. "Berapa biaya sewanya? Kubayar dua kali lipat."

Pemilik persewaan mobil: "Bukannya ini masalah uang, ini masalah prinsip."

Fu An'an: "Tiga kali lipat."

Pemilik persewaan mobil: "Bukannya begitu, Nona, aku ini bukan orang yang mata duitan."

"Kubayar empat kali lipat. Kalau tidak mau menyewakannya, aku akan cari tempat lain." Selesai berkata, Fu An'an berbalik seolah hendak pergi.

"Jangan begitu, Nona! Abang... melihatmu begitu jujur, soal sewa mobil itu tidak penting, yang utama kita bisa berteman."

Pemilik itu menyerahkan kunci mobil kepadanya, mencetak tanda terima, lalu menggesekkan kartu bank pada mesin pembayaran.

Fu An'an seketika merasakan kebahagiaan menghamburkan uang ala Papa Fu!

"Ngomong-ngomong, Nona, karena kamu tidak punya surat izin mengemudi, perlukah Abang bantu mengemudikannya sampai pulang?" tanya pemilik sewa dengan antusias.

"Tidak perlu."

Fu An'an masuk ke dalam mobil, lalu mengemugakannya pergi dengan sedikit kaku namun tidak bisa dibilang buruk.

Pemilik toko menatap kepergian Fu An'an sambil berdecak.

Anak-anak muda zaman sekarang memang sangat suka mencari sensasi.

Sudah kaya, bertingkah sesuka hati pula.

Baru saja berpikir begitu, dua orang lain datang berkunjung ke tokonya.

Pemilik toko menyambut mereka dengan ramah. "Kalian berdua ingin menyewa mobil apa?"

Kedua orang itu menatap sang pemilik dengan senyuman yang sedikit kaku. "Bos, kami ingin masuk dan membicarakan sesuatu..."

Mendapatkan mayat makhluk parasit ternyata jauh lebih sulit daripada mendapatkan senjata api.

Sama sekali tidak ada petunjuk.

Ia sangat berharap bisa menemukan satu mayat tergeletak di pinggir jalan.

Namun, jika di pinggir jalan saja ada mayat, maka sang wali kota tidak akan bisa terus-menerus menciptakan ilusi ketenangan dan kedamaian palsu.

Tempat dengan mayat terbanyak di kota ini pastinya adalah rumah duka. Memikirkan hal itu, Fu An'an mengemudikan mobilnya menuju rumah duka di pinggiran kota.

Kendaraan yang lalu-lalang adalah mobil yang mengangkut jenazah serta mereka yang datang untuk mengambil abu jenazah.

Tempat itu terasa begitu dingin dan sunyi. Selain keluarga yang sedang berkabung, tidak akan ada orang lain yang datang ke sana.

Fu An'an turun dari mobil dan mulai mencari kesempatan, tetapi ia mendapati bahwa prosedur kremasi di tempat itu sangat ketat.

Dari saat jenazah diturunkan dari kendaraan hingga proses pembakaran selesai, sama sekali tidak ada celah bagi orang luar untuk mendekat.

Fu An'an berdiri memerhatikan cukup lama, hingga akhirnya terpaksa menyerah. Sebelum pergi, ia sengaja membungkuk memberi hormat kepada arwah para mendiang—

Maaf telah mengganggu, dan mohon dimaafkan.

Proses itu dilakukan dengan penuh rasa hormat sekaligus sedikit kepercayaan takhayul.

Ia kembali mengemudikan mobilnya masuk ke dalam kota.

Fu An'an bahkan bingung harus mulai mencari dari mana. Setelah mengemudi tanpa tujuan di sepanjang jalan, ia tanpa sadar tiba di pasar gelap yang pernah dikunjunginya di awal permainan.

Bar di hari itu masih tetap sangat meriah. Di bawah cahaya yang temaram, dentuman musik yang menghentak terdengar hingga menyebar ke dua blok jalan.