Bab Seratus Dua Puluh Dua: Di Bawah Langit Luas 47 (Cerita Sampingan - Setelah Kubah Menghilang)
Hari ketiga puluh satu bertahan hidup di bawah kubah.
Tak ada lagi udara beroksigen yang dapat mereka hirup.
Dari lebih dari dua puluh ribu orang pada awalnya, kini hanya tersisa beberapa orang.
Ketika menyadari bahwa oksigen benar-benar telah lenyap, beberapa orang yang masih hidup itu berhenti berebut. Dengan tabung udara terakhir di punggung, mereka hanya menatap langit dalam diam.
Mereka semua tahu, sekeras apa pun berusaha, harapan sudah tidak ada lagi.
Kubah transparan di atas kepala mereka adalah makam bagi seluruh umat manusia.
Orang tuanya telah meninggal, kakaknya juga telah tiada. Kini tinggal seorang diri, Jiang You memandang kematian dengan ketenangan yang nyaris sempurna.
Gas di dalam tabung udara semakin menipis. Jiang You merasa bernapas menjadi sangat sulit.
Napasnya semakin dalam dan cepat, berubah menjadi tersengal-sengal.
Otot-ototnya mulai kejang. Jiang You merasa ajalnya mungkin sudah dekat.
Ia melepaskan masker udara. Udara tanpa oksigen memenuhi paru-parunya. Bola matanya memutih, sementara pupilnya mulai melebar.
Pada akhirnya, ia merasa tak sanggup lagi bertahan.
Saat menutup mata, ia merasakan tubuhnya menjadi ringan. Sensasi tercekik yang semula menyiksanya lenyap sepenuhnya, lalu tubuhnya perlahan melayang ke atas.
Ia melihat dirinya sendiri terangkat dari tanah. Di bawah sana, ia melihat sosok lain yang tampak persis seperti dirinya terbaring di jalan.
Kemudian jalan-jalan kota kecil, rumah-rumah, kendaraan, serta jasad orang-orang yang telah meninggal semuanya terbentang di bawah kakinya.
Apakah ia sedang naik ke angkasa?
Saat itu, Jiang You sama sekali tidak merasa bahwa semua ini tidak ilmiah. Atau mungkin, jauh di dalam alam bawah sadarnya, ia menganggapnya sebagai sesuatu yang ilmiah.
Semakin dekat, semakin dekat.
Ia seakan-akan melihat garis transparan di udara.
Di puncak paling atas, terdapat sebuah titik cahaya biru yang berkedip-kedip.
Ia melihat kubah itu?
Titik cahaya biru di atas sana bergerak perlahan. Jiang You menyadari bahwa benda itulah yang telah membunuh orang tuanya, kakaknya, dan seluruh penduduk kota kecil itu.
Memikirkan hal tersebut, Jiang You mengulurkan tangan, berniat menghantamnya sekuat tenaga.
Namun telapak tangannya menembus kehampaan saat menyentuhnya. Pada saat yang sama, sebuah suara bergema di dalam benaknya.
Ia yakin suara itu bukan bahasa Tionghoa maupun bahasa Eropa, tetapi entah bagaimana ia benar-benar memahaminya.
“Eksperimen tahap pertama: Wilayah A1 — Kota Kecil Ladang Bunga telah berakhir.
“Keberlangsungan hidup bakteri pemusnah oksigen berhasil diperpanjang hingga dua puluh empat jam. Pemusnahan oksigen telah selesai. Wilayah A1 telah sepenuhnya beradaptasi dengan organisme anaerob. Unggas dapat dilepaskan.”
“Eksperimen tahap kedua: Wilayah A2 — Planet Biru dimulai.
“Kubah akan menghilang dalam sepuluh detik. Bakteri pemusnah oksigen akan dilepaskan.
“Hitung mundur dimulai.
“Sepuluh.
“Sembilan.
“Delapan.
“Tujuh.
“Enam.
“Lima.
“Empat.
“Tiga.
“Dua.
“Satu.
“Nol.
“Pelepasan dimulai.”
Suara dingin seperti suara robot terdengar. Jiang You tiba-tiba menyadari sesuatu dan meraung, berusaha menghentikannya.
“Tidak! Jangan!”
Teriakannya menggema dan membangunkan seluruh rumah sakit.
Seorang dokter bergegas datang. “Ada apa? Kamu tidak apa-apa?”
Jiang You terengah-engah dengan liar. Ia memandangi lingkungan di sekelilingnya, lalu tertegun ketika menyadari bahwa dirinya sedang bernapas. Ia begitu terkejut hingga nyaris tak mampu berkata-kata.
“Di mana ini?”
“Rumah Sakit Pusat Kota Fuan.” Dokter itu memegang rekam medis sambil mencatat. “Kamu sangat beruntung. Tim penyelamat berhasil menemukan dan menyelamatkanmu.”
“Bagaimana dengan kubahnya?”
“Kubah? Sudah menghilang.”
Sambil berkata demikian, dokter itu memandang Jiang You dengan iba. Kota wisata yang dahulu indah telah berubah menjadi seperti itu. Dari dua puluh ribu orang, hanya beberapa yang berhasil bertahan hidup.
Mendengar bahwa kubah telah menghilang, hati Jiang You menegang.
“Cepat! Aku harus bertemu polisi. Di dalam kubah ada bakteri pemusnah oksigen! Bakteri itu sudah keluar. Kalau begitu, oksigen di Planet Biru akan lenyap!”
“Kamu pasti salah.” Dokter itu tersenyum kecil setelah mendengar ucapannya. “Begitu kubah menghilang, para ahli langsung melakukan pemeriksaan. Tidak ada apa pun di dalamnya.
“Penyebab kekurangan oksigen adalah ekosistem di dalam kubah telah rusak. Tidak ada lagi tumbuhan hijau yang mengubah udara.”