Bab Seratus Lima Puluh Tiga: Kota Kabut Lingcheng 26
Selesai berbicara, keduanya dengan cepat meninggalkan kamar.
Yan Senbo membungkuk hormat kepada Fu Yizhi, lalu mengikuti di belakang mereka keluar.
Fu Yizhi menatap Zhang Xincheng yang masih tertinggal, "Ada urusan lain?"
"Tuan Fu, saya ingin berdiskusi dengan Anda mengenai pelatihan Fu An'an setelah keluar dari permainan."
Zhang Xincheng berkata dengan ekspresi serius dan sungguh-sungguh, "Fu An'an mungkin cukup lumayan dalam aspek lain, namun fisik dan keterampilannya masih jauh dari kata memadai. Sekalipun ia berhasil menamatkan permainan, ia akan dengan mudah menjadi korban perundungan. Saya rasa kita perlu meningkatkan intensitas latihannya ke depannya agar dalam waktu singkat ia dapat menunjukkan peningkatan yang berarti."
Mendengar hal itu, Fu Yizhi mengangguk, "Boleh."
"Kalau begitu saya juga akan pergi berlatih." Mendapatkan jawaban yang pasti, Zhang Xincheng membungkuk hormat kepada Fu Yizhi lalu berbalik dan pergi.
Seketika di dalam kamar hanya tinggal Fu Yizhi seorang.
"Sebaiknya kau bisa kembali dalam keadaan hidup."
Suara rendah itu bergeming di dalam kamar yang kosong. Fu Yizhi menatap Fu An'an yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
Jari-jarinya yang jenjang di bawah temaram cahaya tampak bagaikan sebuah karya seni yang indah, mencubit lembut pipi Fu An'an yang merona kemerahan—
Saat tertidur, gadis ini memang jauh lebih penurut.
"Aduh!"
Fu An'an, yang tengah memandu Kak Qiang melakukan pembedahan di aula besar, bersin dengan suara yang menggelegar.
"Ada apa, Adik Kecil?"
"Tidak apa-apa, sepertinya terkena sengatan bau ini."
Fu An'an melambaikan tangannya dan berkata, "Kak Qiang, silakan lanjutkan."
Belum mengetahui bahwa kepulangannya nanti akan menyambut pelatihan gaya neraka yang dirancang ulang oleh Guru Zhang, Fu An'an dengan riang gembira memperbudak sang NPC Kak Qiang.
Tiga mayat tersisa dibedah satu per satu, dan dua di antaranya juga merupakan kegagalan parasitisme.
Mayat yang berhasil terparasit itu, gumpalan daging merah mudanya, dimasukkan oleh Fu An'an ke dalam kantong sampah lalu dimasukkan ke dalam brankas. Setelah itu, brankas dimasukkan ke dalam koper, dan barulah dilempar ke bagasi mobil.
Keduanya saling bertukar informasi kontak. Fu An'an memberitahunya beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan, lalu mengemudikan mobilnya pergi.
Sesampainya di hotel, hari telah malam.
Hotel itu tampak terang benderang. Fu An'an melihat para pelancong yang masih ramai di lobi, dan wajahnya pun mengeras.
Ia merapatkan syal untuk menutupi wajahnya, lalu membawa kopernya dan naik ke lantai atas dengan cepat.
Meskipun ia berusaha setengah mati menghindari kerumunan, ia sangat tidak beruntung karena berpapasan dengan ketiga pemain yang tinggal tepat di seberang kamarnya.
Saat itu mereka sedang bersiap untuk turun ke bawah.
Fu An'an berdiri di lorong, saling bertatapan dengan mereka.
"Adik kecil baru darimana? Dibungkus rapat begitukah?"
Kang Jiafang menatap Fu An'an yang baru kembali, bertanya dengan senyum sinis yang tak sampai ke mata.
Di tengah malam buta berdandan seperti ini, ditambah lagi dengan menyeret sebuah koper besar di belakangnya, terlihat sangat mencurigakan.
Tian Yong juga melipat kedua tangannya di dada, berdiri di lorong dan menatapnya dalam diam.
Ketiganya berdiri berjajar, menghalangi jalan di lorong. Sikap mereka seolah-olah tidak akan membiarkannya lewat jika ia tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal.
Fu An'an melirik sekilas ke arah mereka bertiga, lalu berjalan menghampiri Hu Buchang, "Singkirkan."
Hu Buchang menatap Fu An'an sambil mengatupkan bibirnya, lalu tanpa harga diri sedikit pun menggeser langkahnya ke samping.
Fu An'an berjalan melewati mereka dan membanting pintu kamar hingga tertutup dengan suara debuman keras.
Mengabaikan ketiga orang di luar sana, begitu masuk ia langsung mengeluarkan sebuah kendi kaca berukuran sangat besar—jenis kendi yang biasa digunakan untuk membuat acar sayur—lalu merendam gumpalan daging merah muda yang aneh itu ke dalamnya.
Ia pun tidak tahu apakah benda ini aman atau tidak. Demi keamanan, ia menindih bagian atasnya dengan tiga buah buku asing tebal bersampul dekoratif yang lebih berat daripada batu bata.
Benda itu bahkan masih bergerak-gerak meskipun telah terlepas dari tubuh inangnya, membuat Fu An'an merasa seolah-olah benda itu masih hidup.
Di sisi lain, suasana di dalam lift bagi ketiga orang tersebut tampak kurang begitu baik.
Tian Yong dan Kang Jiafang sama-sama menatap dingin ke arah Hu Buchang, rasa kesal di wajah mereka terpampang begitu nyata.
"Xiao Hu, ada apa dengan sikapmu tadi?"