Pada musim semi tahun ketujuh pemerintahan Chongzhen, tanah Tiongkok merintih kesakitan. Invasi, perampokan, wabah penyakit, kekeringan... pembantaian, penjarahan, pemerintahan yang tiran, eksploitasi... kesabaran, perjuangan, penderitaan, kompromi—derita adalah wajah setiap insan. Li Zicheng, Zhang Xianzhong, Huang Taiji, Dorgon, Sun Chuanting, Lu Xiangsheng, Zheng Zhilon—ini adalah zaman di mana para tokoh besar bermunculan; masa milik para pemberani. Dia berdiri tegak di atas tembok kota, berseru: Bangkitlah dan berjuang! Toh kau tak punya pilihan lain. Dia menghunus pedang perang dan mengaum: Hidup seperti semut, harus memiliki cita-cita setinggi angkasa! Nasib setipis kertas, mesti menyimpan hati yang tak mudah menyerah! Langit dan bumi belum pasti, kau dan aku adalah kuda hitam! Namanya adalah Awan Perang, seorang penguasa yang ingin hidup tegak tanpa menyerah.
Cahaya matahari senja musim panas menembus celah pepohonan tua yang rimbun dan menjulang tinggi, sementara suara serangga masih meraung histeris, seolah memprotes datangnya malam yang segera tiba. Namun bagaimanapun juga, hari di Makam Agung Ming segera berakhir.
Makam Agung Ming terletak di Gunung Ungu, Distrik Xuanwu, Kota Nanjing. Inilah makam kaisar pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, dan Permaisuri Ma yang dikebumikan bersama.
Menjelang senja, para wisatawan mulai berangsur-angsur meninggalkan tempat itu. Di antara Gedung Agung dan Puncak Makam di bagian terdalam, dua pria paruh baya tampak kelelahan berjalan, lalu duduk di atas batu di samping Puncak Makam sambil mengobrol.
Di bawah Puncak Makam inilah tempat peristirahatan Zhu Yuanzhang. Menurut hasil pengukuran geomagnetik canggih yang dilakukan oleh lembaga purbakala, makam ini terpelihara dengan baik dan tak pernah dijarah, sehingga aura misterius selalu menyelimuti Makam Agung Ming.
Artinya, setelah enam ratus tahun berlalu, Kaisar Hongwu masih beristirahat tenang di bawah tanah.
“Dong, menurutmu kenapa Dinasti Ming runtuh?” Pria bertubuh tinggi mengeluarkan dua batang rokok, memberikannya satu kepada temannya di sampingnya, lalu mengisap dalam-dalam.
“Pasti ada hubungannya dengan korupsi. Rakyat sudah tak punya jalan hidup! Tapi katanya waktu itu persaingan antar faksi juga parah, bahkan ada yang bilang Dinasti Ming hancur karena pertikaian internal.” Sun Zhendong menyalakan rokoknya tanpa sungguh-sungguh.
Sejak akhir masa Tianqi, wilayah utara Ming mengalami kekerin