Bab 9 Siapa pun yang melihatnya, berhak mendapat bagian!
Melihat Zhang Bao menyeret seekor serigala masuk ke dalam rumah, Su Xiaoyue langsung berlari keluar dari dalam, wajahnya penuh kegembiraan. Ia seperti seekor burung pipit kecil, berputar-putar mengelilingi Zhang Bao.
Zhang Bao menatap serigala di depannya. Kedua kaki belakang binatang itu masih utuh. Ia pun mengambil pisau dapur, lalu memotong kedua kaki belakang serigala tersebut. Setelah itu, ia mencabik sepotong besar daging dari tubuh serigala, lalu sengaja menggosokkan bagian yang terbuka ke tanah agar tampak seperti bekas gigitan binatang lain.
“Nanti aku akan membawa daging ini keluar, kau simpan baik-baik dua kaki ini,” katanya. “Setelah itu bersihkan halaman. Jangan sekali-kali membuka pintu sembarangan.”
Zhang Bao menghela napas, menasihati Su Xiaoyue.
“Kau mau bawa daging ini keluar?” tanya Su Xiaoyue dengan heran.
“Ya. Aku akan membaginya.”
“Kalau tidak, hanya dengan aroma daging ini saja, malam ini mungkin kita berdua sudah kehilangan nyawa…”
Melihat Su Xiaoyue yang tampak enggan, Zhang Bao hanya bisa tersenyum pahit.
“Kita tidak punya pilihan lain. Kalau ingin bertahan hidup, memang harus begini. Bukan karena aku merasa berbelas kasih, aku hanya ingin kita bisa hidup lebih lama.”
Walaupun ia berhasil membunuh serigala itu, tapi untuk benar-benar bisa makan dagingnya tidaklah mudah. Baik direbus maupun dipanggang, aroma daging tetap saja tak bisa disembunyikan. Masa harus dimakan mentah?
Kalau sampai ketahuan, Zhang Bao pun tak yakin apa yang akan dilakukan warga desa. Demi bertahan hidup, inilah satu-satunya jalan.
Zhang Bao membawa bangkai serigala itu dan, ketika tak ada orang, meletakkannya di jalan tak jauh dari rumah. Ia sendiri bersembunyi sambil mengawasi dari kejauhan.
Pagi musim dingin terasa sangat menusuk. Setelah begadang semalaman, Zhang Bao sudah sangat mengantuk dan tubuhnya menggigil diterpa angin dingin.
Untung saja, tak lama kemudian, seorang perempuan keluar rumah. Perempuan ini dikenal sebagai si mulut besar di desa, kalau sudah bertengkar, beberapa orang sekaligus pun tak mampu mengimbangi ocehannya.
Melihat hal itu, Zhang Bao segera keluar dan berpura-pura kebetulan bertemu dengannya.
Begitu melihat Zhang Bao, perempuan itu juga melihat bangkai serigala dan langsung berlari menghampiri.
“Hei, hei, aku juga melihatnya! Bagian untukku!” serunya.
Melihat itu, Zhang Bao pun berteriak, “Jangan asal bicara! Serigala ini aku yang temukan!”
“Omong kosong! Serigala ini aku yang bunuh! Ini milik keluargaku!” Perempuan itu langsung mengangkat bangkai serigala, hendak membawanya pulang. Di masa sulit seperti ini, ia tak peduli siapa pun yang ada di hadapannya.
“Bohong! Serigala ini sudah mati di jalan!” teriak Zhang Bao, sambil memegangi ekor serigala erat-erat, tidak membiarkan perempuan itu membawanya pergi.
Pertengkaran mereka menarik perhatian banyak orang. Melihat serigala di pelukan si perempuan, mata mereka pun mulai berbinar-binar. Di zaman seperti ini, jangankan daging serigala, bahkan persediaan makanan di rumah pun tinggal sedikit. Meski tak kebagian daging, mendapatkan tulang untuk direbus jadi sup saja sudah sangat berharga!
“Warga! Aku yang menemukan serigala ini di jalan, tapi dia bilang dia yang membunuh. Menurutku, siapa yang melihat, dia dapat bagian! Kita semua seharusnya kebagian!” Zhang Bao berteriak kencang.
“Benar! Mana mungkin kau bisa membunuh serigala sendiri? Jelas-jelas mati digigit serigala lain!”
“Betul! Serigala yang mati di desa ini, milik kita bersama!”
“Bukankah waktu kau rebut makanan dari keluarga Wang dulu, kau juga bilang ‘siapa yang lihat dapat bagian’?”
Orang-orang langsung ribut, menuntut bagian mereka dan menghadang jalan perempuan itu.
Perempuan itu menatap tajam pada Zhang Bao. “Aku peringatkan, jangan rebut! Siapa yang berani, aku lawan!”
Namun, ia tahu kalau tak membagi-bagikan daging itu, ia juga takkan bisa pulang dengan selamat hari ini. Akhirnya, ia meletakkan serigala di tanah dan membagi-bagikan potongan daging kepada setiap orang yang ada, lalu buru-buru membawa sisa daging pulang.
Zhang Bao juga mendapat sepotong kecil tulang, hampir tak ada dagingnya, tapi ia tetap pura-pura gembira seperti yang lain dan pulang ke rumah.
Sesuai pesan Zhang Bao, Su Xiaoyue sudah menyiapkan sepanci air mendidih. Melihat Zhang Bao pulang, ia segera membantunya menutup pintu.
“Ayo, segera masukkan daging ini ke panci! Aku akan mengurus dua kaki serigala itu, juga kita rebus, kemudian setelah matang, kita sembunyikan di atap kamar samping,” kata Zhang Bao. “Masih bisa jadi bekal beberapa hari lagi. Hari ini, banyak rumah pasti juga masak daging, tak ada yang curiga ke kita.”
Zhang Bao pun akhirnya merasa lega.
Su Xiaoyue mengangguk setuju. Meski cara Zhang Bao terkesan licik, tapi serigala itu didapatkan dengan taruhan nyawa. Demi keselamatan, terpaksa harus dibagi dengan orang lain.
Mungkin, memang nasiblah yang paling tak adil…
Mereka berdua pun menikmati makan besar hari itu.
“Memang makan daging rasanya luar biasa! Baru terasa punya tenaga. Kalau cuma makan kulit pohon, tak cukup…” Zhang Bao menarik napas panjang dengan puas.
Su Xiaoyue di sampingnya, mengunyah daging pelan-pelan, tampak enggan menghabiskannya.
“Ayo, makan habis daging ini!” kata Zhang Bao sambil meletakkan sepotong besar daging ke mangkuk Su Xiaoyue. “Lihat tubuhmu, kurus sekali. Kau sering kejang, itu karena tak makan daging. Kalau makan lebih banyak, tubuhmu akan sehat.”
“Suamiku… aku tak sanggup menghabiskan… Lebih baik simpan untuk nanti…” Su Xiaoyue menggeleng dan mengembalikan daging itu.
“Tidak boleh! Bagaimana kalau perampok datang lagi lalu menemukan daging ini, kita pun tak sempat memakannya!”
“Makanlah! Kalau tidak, aku akan memukulmu!” Zhang Bao berpura-pura galak, meletakkan daging itu kembali ke mangkuk Su Xiaoyue sambil mengacungkan tinjunya.
Air mata Su Xiaoyue menetes deras.
“Suamiku, jangan terlalu baik padaku, dulu aku… aku…” Su Xiaoyue teringat kebenciannya pada Zhang Bao di masa lalu, terutama peristiwa terakhir, dan hatinya dipenuhi penyesalan. Kini, mendengar ancaman Zhang Bao hendak memukulnya, bukan ketakutan yang muncul, melainkan rasa bahagia.
Dulu, bila suaminya memukul, ia tak tahu untuk apa. Sekarang, jika suaminya mengancam memukul, justru demi kebaikan dirinya—agar ia mau makan daging. Bahkan kalau harus dipukul pun, ia akan bahagia…
“Apa kau masih ingat waktu kau memukulku?” Zhang Bao tersenyum, mengetuk kepala Su Xiaoyue pelan.
“Eh? Kau tahu juga?” Su Xiaoyue terkejut, sampai sumpit di tangannya terjatuh, menatap Zhang Bao dengan tak percaya.
“Tentu saja tahu. Tapi setelah ini, jangan pernah lakukan lagi. Kalau kau pukul aku lagi, suamimu ini benar-benar tak ada lagi. Kalau aku tak ada, siapa yang akan melindungimu?”
Zhang Bao mengusap kepala Su Xiaoyue dengan lembut.
“Suamiku, aku… aku… Sebenarnya aku… Hari itu kau…” Su Xiaoyue bingung sendiri, ingin menjelaskan, tapi tak menemukan alasan yang tepat. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam.
“Mungkin dulu aku memang tak baik padamu. Kau sudah memukulku sekali, berarti kita impas. Aku tak menyalahkanmu. Kau juga harus memaafkan perlakuanku padamu di masa lalu, ya?”
Zhang Bao berkata dengan tulus pada Su Xiaoyue.
“Memaafkan?” Su Xiaoyue terpaku heran. Di zaman seperti ini, seorang laki-laki meminta maaf pada perempuan benar-benar hal yang mustahil. Tapi kini, semuanya terjadi nyata di depannya, sampai-sampai Su Xiaoyue mengira ia salah dengar.
“Tidak, tidak! Suamiku, seharusnya kau yang memaafkan aku karena telah melanggar kewajiban sebagai istri… aku…”
Wajah Su Xiaoyue memerah, tak tahu harus berkata apa. Ia pun langsung berlutut, membungkuk dengan hormat di hadapan Zhang Bao.
Zhang Bao terperanjat.
Aduh, kok begini lagi…