Bab Dua Puluh Tiga: Duplikat Selesai, Kelas Berakhir!
“Karena diskusinya sudah selesai, mari kita akhiri pelajaran.” ucap Lin Xueting dengan datar, lalu dengan cekatan mengeluarkan mereka semua dari ruang itu, menyisakan dirinya seorang diri di sana.
Biasanya, setelah murid-murid menyelesaikan simulasi, ia tidak akan langsung memberikan penjelasan, melainkan membiarkan mereka merenung sendiri, saling bertukar pendapat, dan belajar dari pengalaman itu. Cara seperti ini jauh lebih mudah membuat mereka mengingat dan memahami pelajaran.
“Tidak bisa, ya. Ini soal keberuntungan dan peluang juga. Ternyata tetap gagal di langkah terakhir.” Lin Xueting menatap papan peringkat di depannya, menggelengkan kepala dengan pasrah. Ternyata Su Qinghe tetaplah Su Qinghe, peringkat satu memang bukan sesuatu yang mudah digeser.
“Hasil ini sudah bisa diduga, tapi tetap saja ada kejutan.” Senjata api dan bunga malam yang jadi penangkal sulur, akhirnya tetap saja tewas konyol karena tanah amblas. Benar-benar tak tahu harus dibilang beruntung atau sial.
Setelah menyimpan hasil peringkat, Lin Xueting keluar dari ruang simulasi.
Begitu membuka mata, yang terlihatnya adalah bagian dalam kapsul.
Ketika ia membuka kapsul dan keluar darinya, kebanyakan siswa sudah meninggalkan ruangan. Beberapa yang masih tinggal dengan sopan mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi.
Ia mengangguk sebagai balasan. “Silakan pergi, jangan berlari di lorong, pelan-pelan saja.” Ia pun berjalan keluar dari ruang kapsul, kembali ke kantor, dan mulai memasukkan nilai Su Qinghe dan yang lain ke dalam sistem.
Sementara itu, Su Qinghe dan teman-temannya yang keluar lebih dulu, ada yang langsung berlari ke kantin untuk membeli makan, ada pula yang kembali ke kelas dulu untuk mengambil kartu makan atau barang lain sebelum menuju ke kantin.
“Hari ini kita keluar kelas lebih awal, pasti ayam goreng besar masih ada,” gumam Lin Xiaoxiao sambil mengerutkan alis kecilnya. Melihat semakin banyak orang di sekitarnya, ia mulai mendesak, “Qinghe, ayo kita cepat, kalau tidak nanti ayam gorengnya keburu habis.”
Setelah berkata begitu, ia mempercepat langkah, menggandeng lengan Su Qinghe dan bergegas menuju kantin yang menjual ayam goreng besar itu.
Su Qinghe tersenyum memanjakan, mengikuti langkahnya dengan mempercepat langkah kaki.
Begitu masuk ke kantin, aroma makanan langsung membuat Lin Xiaoxiao berseru kegirangan, “Wangi sekali~ Ayam goreng besar, ayam goreng besar…” Ia segera sadar kembali, menarik Su Qinghe menuju jendela tempat ayam goreng dijual. Sikapnya yang mengabaikan segala godaan lain dan hanya setia pada ayam goreng besar membuat Su Qinghe kembali tersenyum, lalu mengikuti tarikan tangannya.
Mereka datang lebih awal, sehingga masih ada stok paha ayam panggang Orleans yang jadi menu favorit kantin nomor satu.
Selain ayam panggang Orleans, Lin Xiaoxiao juga memesan segelas teh lemon madu, lalu pergi ke jendela lain untuk membeli seporsi mi saus daging. Maka lengkaplah makan siangnya hari itu.
Jika dibandingkan dengan makan siangnya yang beragam dan melimpah, makan siang Su Qinghe sangat sederhana: semangkuk sup mi dengan telur dadar dan daging panggang.
Tidak seperti di rumah yang makan dalam keheningan, di sekolah mereka sangat santai, sambil makan mereka juga asyik mengobrol.
“Qinghe, menurutmu ujian masuk perguruan tinggi nanti akan seperti apa?” tanya Lin Xiaoxiao setelah menelan daging di mulutnya, memandang Su Qinghe yang duduk di seberangnya dengan rasa penasaran.
Setelah meneguk teh lemon, ia melanjutkan, “Kata kakak-kakak kelas, mereka dapat simulasi bertema horor, di mana seluruh peta dipenuhi siluman. Tugasnya hanya membasmi sebanyak mungkin siluman, lalu peringkat ditentukan dari jumlah siluman yang berhasil dibunuh.”
“Sekilas memang terdengar sederhana, tapi kalau aku yang harus menjalani, entah bisa dapat nilai bagus atau tidak. Semoga saja bukan simulasi seperti itu, aku lebih suka pakai otak daripada adu fisik.”
“Aku juga tidak percaya kalau simulasinya sesederhana itu, pasti ada senjata yang sesuai untuk melawan siluman.”
“Simulasi yang sangat bergantung pada keberuntungan begini, siapa yang tahan!” Ia bergidik, lalu menggerutu, “Dengan keberuntunganku yang seperti bertemu hantu, aku pasti diarahkan jadi penyembuh. Simulasi seperti itu benar-benar jahat buatku, mending aku sembunyi sampai ujian selesai, biar tidak pusing sendiri.”
Ia mendecakkan lidah, menggigit besar daging ayam, membuat pipinya menggembung. Melihat itu, Su Qinghe jadi ingin mencolek pipinya.
Benar, terasa sangat lembut. Su Qinghe menelan mi di mulutnya, berdiri sedikit membungkuk, dan sebelum Lin Xiaoxiao sempat bereaksi, jari putihnya sudah menepuk pipi Lin Xiaoxiao, lalu kembali duduk dengan tenang.
Baru setelah Su Qinghe duduk, Lin Xiaoxiao sadar telah dikerjai kembali.
Ia menatap Su Qinghe dengan sedikit kesal.
Siapa sangka, Su Qinghe malah melemparkan lirikan genit padanya. Seketika Lin Xiaoxiao lupa apa yang ingin ia katakan, dan baru sadar sudah terpesona oleh sahabatnya sendiri. Cepat-cepat ia menunduk, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu melanjutkan makan.
Pencinta makanan tidak boleh punya perasaan, aku! Tak boleh punya perasaan!
Hanya terdengar suara tawa ringan dari Su Qinghe.
Tawa jernih dan merdu itu menembus telinga Lin Xiaoxiao, membuat wajah kecilnya langsung memerah, menambah kecantikan di wajahnya.
Xiaoxiao memang benar-benar permata, jelas-jelas sangat menyukai wajah Su Qinghe, tapi tetap saja tidak mau mengaku. Dalam hal ini, ia selalu bersikap gengsi, dan setiap kali digoda reaksinya benar-benar menggemaskan.
Hal itu membuat Su Qinghe makin senang menggodanya.
Anehnya, meski sudah tiga tahun digoda dengan intensitas seperti itu, Lin Xiaoxiao tetap saja tidak terbiasa, malah reaksinya menjadi semakin lucu dan manis dari hari ke hari. Bagaimana mungkin Su Qinghe tidak makin menyayanginya?
Tentu saja, segalanya harus dilakukan dengan sewajarnya. Kalau kelinci dipaksa terus, bisa-bisa menggigit juga. Kalau Xiaoxiao sudah benar-benar kesal, mungkin bisa marah dan mendiamkan Su Qinghe lama sekali.
Su Qinghe pun berhenti menggoda, mereka berdua menghabiskan makan siang dengan cepat, lalu berjalan keliling lapangan untuk membantu pencernaan, setelah itu perlahan menuju asrama.
Di perjalanan, mereka bertemu beberapa teman seangkatan. Jika kenal, mereka saling menyapa sebelum melanjutkan perjalanan.
“Pesonamu memang hebat, Qinghe. Dari lapangan ke gedung asrama yang jaraknya tak sampai seratus meter saja, sudah lebih dari dua puluh orang yang menyapamu. Memang, manusia dan manusia itu tidak bisa dibandingkan~” Begitu sampai di asrama, Lin Xiaoxiao langsung duduk di atas ranjang Su Qinghe, lalu merebahkan diri mencari posisi nyaman sambil memeluk bantal Su Qinghe, dan berkata dengan santai.
Setelah mencabut kunci dan menutup pintu, Su Qinghe masuk membawa kunci. “Tidak sehebat yang kamu bilang. Kamu juga kenal mereka. Lagi pula, tadi siapa yang asyik ngobrol sama Miao sampai lupa aku?”
Tatapan Su Qinghe sedikit berubah, pura-pura marah. “Kalau saja Miao tidak pamit, kamu pasti masih lupa sama aku, kan?” Ia mendecak, memandang Lin Xiaoxiao dengan tatapan datar.
“Jangan-jangan kamu baru ingat mau kembali ke asrama, lalu pas berbalik lihat aku, baru ajak aku jalan bareng.”
Mendengar itu, Lin Xiaoxiao langsung mengkerut, buru-buru bangkit dan mendekat untuk merayu, “Mana mungkin, siapa pun takkan kulupakan, apalagi kamu. Aku cuma bercanda, Qinghe~”
Lin Xiaoxiao memasang wajah memelas seperti anak anjing yang minta belas kasihan, berharap dimaafkan oleh Qinghe.
Su Qinghe menyilangkan tangan di dada, pura-pura jual mahal, lalu melirik Lin Xiaoxiao dengan santai.
Melihat Lin Xiaoxiao menarik kepala ke belakang seperti anak kecil, Su Qinghe pun tak tahan untuk tertawa.
Menyaksikan senyum Su Qinghe, Lin Xiaoxiao tahu dirinya sudah digoda lagi.
Alih-alih marah, ia malah merasa senang.
Wajahnya yang dipenuhi rona muda itu pun tersenyum manis.
Keduanya saling menatap dan tersenyum, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Sebuah ruang berbeda yang tenang, jauh dari keramaian kantin.