Bab Lima Puluh Satu: "Kompleks Bahagia" (24)
Selain itu, orang itu juga turun di stasiun berikutnya.
Itulah sebabnya muncul pemandangan aneh yang kini terlihat.
Satu sisi kursi hampir penuh dengan orang, mereka lebih memilih untuk “berdesakan” daripada duduk di sisi lainnya yang kosong. Di antara dua pintu kereta, seolah-olah terbentuk pintu tak kasat mata, di mana kedua sisinya adalah dunia yang sama sekali berbeda, namun orang-orang tampak tidak menyadarinya, masing-masing tetap sibuk dengan urusannya sendiri.
Di sisi “pintu” itu, suara orang ramai dan suasananya begitu hidup, sementara di sisi tempat Li Fanxing berada, semuanya sunyi.
Hanya dia seorang diri di ruang kosong itu.
Suara pengumuman kereta bawah tanah terdengar, mengingatkannya bahwa ia harus bersiap-siap turun.
Saat itulah Li Fanxing tersadar dari dunianya sendiri, matanya sedikit membesar, aura kemurungan di sekelilingnya pun agak mereda.
Wajahnya tidak lagi setertutupi awan kelam seperti sebelumnya, meskipun tetap saja sulit bagi siapa pun untuk mendekatinya.
Keluar dari lorong bawah tanah, sorot mata Li Fanxing sedikit berubah, ia pun mengurungkan niat untuk mencari pekerjaan di sekitar stasiun kereta bawah tanah.
Ia melangkah perlahan, bola matanya yang cokelat tua tampak gelisah, tangan kurusnya yang jelas terlihat urat dan tulang sendinya mencengkeram tali tas selempang dengan ragu, bibirnya terkatup rapat.
Berjalan di tengah keramaian seperti ini membuatnya semakin tegang, bibir dan pipinya yang tidak begitu halus pun terlihat agak pucat. Ia ingin sekali kembali ke dunianya sendiri, ke rumah yang hanya diisi oleh dirinya seorang.
Namun ia tahu ia tak bisa terus bersembunyi seperti itu, uang yang tersisa sudah tak cukup untuk menopang hidupnya ke depan. Ia harus menemukan pekerjaan, mendapatkan upah demi bertahan hidup.
Ia bagai seekor kura-kura kecil yang terluka, sekali lagi tersesat masuk ke dunia manusia.
Mengintip dunia luar adalah naluri, namun ketakutan akan luka yang mungkin ditimbulkan dunia luar juga merupakan naluri.
Pergulatan dua pikiran dalam benaknya membuatnya semakin menciut terhadap lingkungan sekitar, keberanian yang mendadak sirna membuatnya bahkan tak berani lagi mencengkeram tali tas untuk meredakan tekanan, jari-jarinya hanya diam tak berdaya di atas tali itu.
Hanya gerak mencengkeram, tanpa benar-benar memberikan tenaga.
Sepanjang hari, Li Fanxing tidak tahu sudah berjalan sejauh apa, tak tahu sudah berapa toko yang ditanyakannya, namun pada akhirnya tetap tak membuahkan hasil.
Di bawah temaram jingga matahari yang hampir tenggelam, langkah para pejalan kaki semakin cepat, raut wajah mereka terburu-buru.
Semua orang bergegas pulang, matahari yang condong ke barat seolah-olah juga mendesak mereka untuk lebih cepat, makin cepat.
Setelah seharian sibuk, yang mereka inginkan hanyalah segera pulang, makan, lalu beristirahat sejenak.
Namun semua itu tampaknya tak berarti apa-apa bagi Li Fanxing.
Ia tetap melangkah perlahan, di bawah sinar mentari senja ia tampak lebih lusuh dibanding saat berangkat, aura kelam dalam matanya menggelora, membuat hatinya tak pernah tenang.
Berbeda dengan orang-orang yang pulang dengan harapan di hati, ia seolah melangkah di jalan tanpa kembali, berlawanan arah dengan semua orang, meninggalkan mentari senja di belakangnya, di hadapannya hanya ada jalan sempit nan gelap yang entah menuju ke mana.
Setibanya di rumah, hati Li Fanxing yang tegang dan resah sepanjang hari itu akhirnya bisa beristirahat.
Seolah-olah tak ada apa pun yang terjadi, ia kembali ke kamarnya.
Li Fanxing melepas tas dari punggung dan meletakkannya di kursi, lalu berjalan ke sisi tempat tidur dan perlahan-lahan berbaring.
Ia berbaring lurus, kedua tangan terlipat rapi di atas perut, matanya menatap lurus ke depan, entah sedang memandang sesuatu atau tidak memandang apa-apa.
Tak tahu berapa lama berlalu, bola matanya yang kosong itu bergerak, kesadarannya perlahan kembali.
Dengan gerakan lambat, Li Fanxing bangkit, turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar, lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.