Bab 14: Cara yang Tak Terpikirkan
“Jangan!”
Makhluk mengerikan itu menerjang ke arahnya, membuatnya tersentak bangun dari tempat tidur. Sambil terengah, Syar memandang sekeliling dengan tatapan kosong, barulah ia sadar bahwa semua itu hanya mimpi buruk belaka.
“Meong!”
Dari tubuhnya tiba-tiba terdengar suara lembut. Seekor makhluk berbulu putih dilempar ke atas seiring kegelisahannya, lalu mengeluarkan suara protes, sepasang mata sipit menatapnya tajam.
“Maaf, aku baru saja bermimpi buruk,” Syar segera menyadari, lalu mengulurkan tangan untuk menangkap makhluk itu dan mengelus bulunya yang mengembang. Sentuhan lembut dan halus itu membuat hatinya lekas tenang. Ia mengulurkan tangan, “Kunang, maukah kau menjadi totemku?”
Si rubah kecil memiringkan kepala, menatapnya, lalu menggesekkan kepalanya ke tangan Syar. Syar kemudian memeluknya dan mengecup keningnya, tersenyum lebar, “Nah, ini pilihanmu sendiri. Tidak boleh menyesal, ya!”
Ia sudah yakin, kemarin makhluk inilah yang menyelamatkannya. Meskipun tampak lembut dan menggemaskan, pasti ada kekuatan istimewa yang tersembunyi di baliknya, hingga bisa mengusir makhluk mengerikan itu.
Berhasil memikat ‘Si Tudung Merah’ yang tampak tak berbahaya tetapi ternyata adalah ‘serigala besar’ yang tersembunyi, bisa dibilang ia sangat beruntung.
Untuk saat ini, makhluk ini sangat cocok menjadi totem pertamanya. Nanti, jika evolusi kemampuannya tak sesuai harapan, ia masih bisa menggantinya kapan saja dengan permata. Ia tak perlu khawatir soal itu.
Selepas makan malam, Syar langsung menuju ke kota kecil, masuk ke sebuah rumah dan melangkah ke ruang bawah tanah.
Bruce menerima beberapa batu abu-abu yang diserahkan Syar, lalu memandang rubah kecil di pundaknya dan tersenyum, “Terus terang, kukira kau akan memilih serigala kelabu, atau bahkan beruang hutan. Tak kusangka kau justru memilih rubah bulan yang biasa saja.”
“Tak apa. Rubah bulan memang tak terlalu kuat, tapi mudah dikembangkan dan dievolusi. Ini akan mempercepat langkahmu menjadi Pemanggil Roh Sejati. Syar, kau yakin ingin menjadikannya totem?”
“Tentu, aku yakin.” Syar mengangguk, meski ada sedikit keraguan dalam hatinya. Apakah Bruce benar-benar tidak tahu siapa Kunang sebenarnya? Atau mungkin ia yang salah sangka, bahwa rubah kecil ini hanyalah rubah biasa?
Ia memilih diam. Tak ingin bercerita tentang apa yang ia alami sebelumnya. Kalau ternyata ia salah, nanti tinggal diganti saja. Sekarang, yang penting ia punya totem pertama, dan bisa terus berkembang seperti bola salju.
“Baik, kita mulai.”
Bruce mengangguk, mengeluarkan sebuah kristal sumber. Cahaya abu-abu pun berpendar dari dalamnya, berubah menjadi simbol-simbol aneh yang menyelimuti rubah putih itu.
Rubah kecil itu nampak panik dan mencoba memberontak, tapi di bawah kendali Bruce, ia tak berdaya, hanya bisa pasrah saat simbol-simbol misterius itu memindainya.
“Langkah pertama, gunakan simbol pemindai untuk memeriksa seluruh tubuh dan menemukan pola warisan di dalamnya.”
Bruce membuat gerakan tangan yang sangat rumit. Sinar abu-abu berpilin seperti pita, menyelimuti seluruh tubuh rubah kecil, menembus masuk dan keluar, hingga tubuhnya tampak seperti kepompong raksasa.
“Langkah berikutnya, gunakan simbol analisa. Sebagai ujian, kau harus mewujudkan faktor warisan itu sendiri, sebagai dasar pembuatan totem. Perhatikan baik-baik!”
Seiring ucapannya, di atas “kepompong” muncul pola-pola aneh yang berputar bagai galaksi, indah dan penuh irama misterius. Syar pun tak kuasa, tenggelam dalam pesonanya.
Hampir lima belas menit ia terpaku, hingga akhirnya bisa melepaskan diri dari pesona faktor warisan itu. Ia mengambil pena bulu dan mulai menggambar dengan cepat. Garis demi garis dilukis, membentuk pola yang rumit dan penuh detail, memenuhi selembar perkamen.
Satu jam kemudian, ia akhirnya berhenti, menghapus keringat di dahi dan berkata, “Guru, sudah selesai.”
Bruce melirik sekilas dan berujar, “Bagus. Langsung ke tahap berikutnya, konstruksi totem.”
Beban di hati Syar pun berkurang. Ia sudah menggunakan teknik menggambar totem tingkat master, menuangkan seluruh pemahamannya, takut kalau sampai ada yang mencurigakan.
Namun Bruce tampak sangat percaya padanya. Ia langsung mengambil gambar itu dan melanjutkan gerakan tangannya.
Cahaya abu-abu bersinar, gambar itu melayang di udara, sementara kepompong cahaya yang membungkus rubah kecil juga ikut melayang dan mendarat di atas gambar itu.
Mata Syar membelalak kaget. Proses pembuatan totem yang ia tahu tidak seperti ini!
Dalam permainan, setelah faktor warisan dianalisa, gambar totem dimasukkan ke pabrik simbol, lalu menggunakan simbol konstruksi untuk menduplikasi totem secara massal.
Tapi sekarang, Bruce sama sekali tidak menggunakan pabrik simbol, seolah-olah hendak menciptakan totem langsung dari tubuh rubah kecil itu!
Kalau begini, masihkah totem itu memiliki sifat abadi?
Sial, siapa sebenarnya orang ini, dan dari mana ia dapat teknik yang begitu aneh?
Di bawah tatapan Syar yang tertegun, rubah kecil itu menjerit memilukan. Tubuhnya berubah bentuk dengan cepat, seperti adonan yang diuli dan dipilin, tulang-belulangnya pun berputar dan membentuk ulang.
Lalu, di belakang Bruce perlahan muncul sebuah bayangan samar, memancarkan aura mengerikan.
Sebuah cermin?
Melihat jelas bentuk bayangan itu, Syar merasa putus asa. Kondisi ini benar-benar di luar kendalinya, Bruce sama sekali bukan pemanggil roh seperti yang pernah ia kenal.
Kali ini, ia benar-benar dalam bahaya!
***
Di luar, sebuah kereta tampak sederhana berhenti di depan rumah kecil itu. Keluar dari dalamnya seorang pria bertubuh kekar, auranya menggetarkan, menyerupai beruang raksasa yang berjalan dengan dua kaki. Si kusir, Hans, langsung ketakutan dan buru-buru menunduk hormat, “Tuan Markus, ini…”
“Tak perlu bicara banyak. Aku hanya ingin tahu sehebat apa orang itu, sampai membuat Tuan Muda datang berkali-kali.” Markus menjawab dingin, matanya menyala garang, membuat Hans gemetar ketakutan.
“Tuan Muda adalah pewaris masa depan Kota Emas. Banyak orang tak jelas selalu ingin memanfaatkannya. Aku akan membuat mereka sadar, siapa pun yang coba macam-macam, akan kupenggal kepalanya!”
“Baik, Tuan Markus!” Hans semakin cemas, takut Markus marah karena kemarin ia membujuk Tuan Muda untuk berpetualang.
Hans tahu, Tuan Muda bisa bertindak semaunya di kota kecil ini dan tak seorang pun berani menentangnya, karena Markus telah berkali-kali turun tangan secara brutal, membunuh belasan orang hingga seluruh penduduk kota gentar menghadapi kekejamannya!
Di belakang Markus, dua pengawal bertampang sangar mengikutinya. Markus menendang kuat pintu kayu yang terkunci rapat, lalu masuk tanpa basa-basi ke halaman.
Namun, sesampainya di dalam rumah, ia tidak menemukan Syar maupun Bruce. Keningnya berkerut, “Cari! Pasti ada pintu rahasia di sini!”
“Baik, Tuan!” Serempak, dua pengawal itu memeriksa tiga ruangan di rumah itu, membongkar lemari, papan tempat tidur, bahkan menggali lantai batu, semua diangkat dan diperiksa.
Namun setelah mengobrak-abrik setiap sudut hingga dinding-dinding penuh goresan, mereka tetap tidak menemukan apa pun.
Wajah Markus semakin muram. Berdasarkan penuturan Hans, dua orang itu jelas-jelas ada di rumah ini. Ke mana mereka pergi? Masa dua orang dewasa bisa lenyap tanpa jejak?
Tap! Tap! Tap!
Terdengar langkah kaki mendekat dari luar. Sosok tinggi berjubah merah memasuki rumah, menatap Markus sekilas lalu berkata dingin, “Sampah, enyah dari sini.”
“Kurang ajar! Kau cari mati!”
Emosinya yang sudah meledak karena tidak menemukan Tuan Muda, ditambah penghinaan orang itu, membuat Markus langsung kalap. Dengan teriakan membahana, ia mengayunkan tinjunya yang besar, menerjang lawannya dengan kekuatan penuh.
“Aku ingin lihat, kepalamu yang lebih keras, atau tinjuku!”