Memulai Perjalanan Kembali
Shi Wunian tidak tinggal lama di Kota Huangshi. Tiga hari kemudian, ia kembali berangkat, melanjutkan perjalanan ke timur.
Di bawah gapura di sisi timur Kota Huangshi, banyak orang melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan padanya. Shi Wunian membalas dengan senyum, melambaikan tangan sambil berjalan mundur menjauh.
Baru berjalan sekitar satu li, Shi Wunian sudah melihat seorang gadis kecil duduk di atas sebongkah batu biru di tepi jalan.
“Jiu’er? Ternyata kau bersembunyi di sini! Pantas saja hari ini aku tak menemukanmu,” ujar Shi Wunian kaget.
Jiu’er tersenyum geli, “Kau kaget, kan? Senang, nggak?”
Shi Wunian tertawa, lalu mencolek kening Jiu’er dua kali, “Apa kau tahu kakekmu sangat cemas padamu? Cepat pulang, jangan buat beliau khawatir.”
Jiu’er menjawab dengan bangga, “Jangan bohong, semalam aku sudah bilang pada Kakek. Beliau tahu aku baik-baik saja, mana mungkin khawatir?”
Shi Wunian menggeleng, “Benar-benar cerdik, kau ini!”
Jiu’er terus tersenyum, “Lagipula, aku sudah bilang pada Kakek, mulai sekarang aku akan ikut kau merantau. Kakek tidak melarang, malah senang dan menyuruhku menunggumu di sini. Katanya, kalau aku sudah besar, aku boleh menikah denganmu. Aku pun setuju!”
Shi Wunian memandang Jiu’er dengan bingung, sementara Jiu’er menatapnya dengan penuh tawa. Setelah beberapa saat, Shi Wunian berkata, “Cepat katakan padaku, ini tidak sungguhan, ‘kan?”
Jiu’er memasang wajah serius, “Ini sungguhan! Ayo, kita berangkat sekarang!” Selesai bicara, ia berbalik dan melangkah ke arah timur, meninggalkan Shi Wunian yang masih berdiri terpaku. Setelah berjalan belasan langkah, Jiu’er menoleh dan melihat tampangnya yang melongo. Ia pun tertawa terbahak-bahak, “Kau benar-benar percaya! Bodoh sekali.”
Shi Wunian menghampirinya, lalu menjentik kepalanya sebagai hukuman, “Anak kecil, bukannya belajar hal baik, malah belajar menipu.”
Jiu’er mengelus kepalanya dengan wajah memelas, “Masa kau pukul calon istrimu sendiri? Jahat! Lagipula aku sudah sepuluh tahun, bukan anak kecil lagi.”
Shi Wunian hanya bisa diam. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi gadis kecil yang penuh akal itu.
Jiu’er berkata, “Sudah, aku tidak bercanda lagi. Aku cuma ingin mengantarmu seorang diri, sekalian tanya, apa kau akan kembali lagi?”
Shi Wunian menjawab, “Pasti, aku pasti akan kembali!”
“Berapa lama?” tanya Jiu’er.
“Aku pun tak tahu, mungkin sepuluh tahun, delapan tahun… Soalnya aku mungkin akan pergi sangat jauh.”
Jiu’er berkata, “Kalau begitu, pergilah cepat!”
“Mengapa?” tanya Shi Wunian.
“Karena kalau kau cepat pergi, kau bisa cepat pulang!” jawab Jiu’er.
Shi Wunian mengetuk ringan keningnya, “Kau memang cerdik. Kalau begitu, aku sungguh pergi, ya.”
Jiu’er mengangguk mantap. Shi Wunian pun berbalik dan melangkah pergi.
Baru berjalan belasan meter, Shi Wunian mendengar suara Jiu’er meneriakkan, “Jangan lupa pulang cepat! Kalau sampai aku sudah besar dan kau belum kembali, aku akan menikah dengan orang lain. Saat itu, kau cuma bisa sembunyi dan menangis!”
Shi Wunian membalas dengan kesal, “Cepat pulang!”
Teriakan Jiu’er masih terdengar, “Kali ini sungguhan, kau harus cepat pulang…”
Shi Wunian pun mempercepat langkahnya, baru memperlambat setelah suara Jiu’er tak terdengar lagi.
Dari Kota Ping’an ke Kota Huangshi berjarak lebih dari tiga ribu li. Shi Wunian menempuhnya dalam waktu dua puluh hari, sebab ia tidak terburu-buru dan memanfaatkan perjalanan untuk melatih ilmunya dengan berburu binatang di hutan. Karena itu, dalam dua puluh hari itu, kemampuannya meningkat pesat. Orang-orang Huangshi hanya tahu bahwa ratusan li di barat adalah hutan belantara, karena mereka belum pernah ke Kota Ping’an, jadi tidak tahu bahwa barat adalah hutan tanpa batas.
Sementara dari Huangshi ke Kota Shan hanya sekitar tiga ratus li. Dengan kekuatan kakinya sekarang, Shi Wunian bisa menempuhnya dalam sehari jika lari sekuat tenaga. Meski ingin segera tiba di kota besar untuk membeli buku, ia tetap berjalan santai dan baru tiba di Kota Shan tiga hari kemudian.
Kota Shan adalah sebuah kota kecil berpenduduk beberapa puluh ribu orang. Karena wilayah barat daya kota ini kaya bijih besi, Kerajaan Xichu membangun kota ini untuk mengelola penambangannya. Karena di barat ada hutan tak berujung, pertahanan kota pun terkesan seadanya. Prajurit penjaga gerbang hanya menanyai Shi Wunian sebentar lalu mempersilahkannya masuk. Bahkan, mereka dengan ramah memberitahu bocah desa sepertinya kalau di kota besar nanti butuh surat izin masuk-keluar. Salah satu penjaga juga menyarankan Shi Wunian untuk mencatatkan domisili di kota ini, cukup dengan mendaftar di kantor walikota.
Setelah berterima kasih, Shi Wunian pergi ke kantor walikota untuk mendapatkan surat izin, lalu mencari penginapan.
Menjelang makan malam, penginapan dan rumah makan menjadi tempat paling ramai. Setelah seharian bekerja keras, orang-orang ingin melepas penat, jadi mereka mengajak teman-teman untuk makan, minum, dan mengobrol. Karena itu, kedai menjadi sumber informasi paling cepat.
Baru saja Shi Wunian duduk dipandu pelayan, ia mendengar perbincangan dari meja sebelah. Ia pun memesan beberapa makanan ringan dan diam-diam mendengarkan.
Seorang lelaki besar bertelanjang dada berkata dengan suara berat, “Tugas kali ini sepertinya tidak mudah. Imbalannya memang menggiurkan, tapi sudah dua kelompok sebelumnya tewas di lubang itu. Bahkan seorang ahli tingkat Kondensasi Qi pun tak bisa keluar hidup-hidup. Kalau kita masuk sembarangan, bisa-bisa mati tanpa tahu sebabnya.”
Seorang pria kurus bermuka licik menimpali, “Betul, kita jangan sampai tergiur imbalan dan lupa diri. Dengan kekuatan kita, kemungkinan besar cuma diperalat orang lain. Bagian hasil pun pasti tidak sampai ke kita.”
Seorang lelaki berhidung elang dengan wajah bengis membentak, “Hou San, jangan kau merendahkan diri sendiri begitu! Aku, Yin Li, dan Kakak Da Chun sama-sama tingkat Kondensasi Qi. Apalagi Kakak Da Chun sudah di puncak tingkat empat Kondensasi Qi. Di Kota Shan ini, sedikit orang yang bisa menandingi Kakak Da Chun. Siapa pula yang bisa memanfaatkan kita?”
Hou San tampak ketakutan, setelah dibentak ia hanya diam.
Lelaki besar berjanggut berkata, “Yin, jangan terlalu mengangkat aku. Aku tahu kemampuanku sendiri. Di kota ini masih banyak yang lebih hebat dariku, apalagi walikota adalah ahli tingkat Fondasi.”
Yin Li menjawab, “Masa kita langsung menyerah? Kakak Da Chun tidak tertarik pada ilmu tingkat manusia itu?”
Setelah berpikir sejenak, Da Chun berkata, “Kalau hanya kita berlima, peluangnya kecil. Tapi kita bisa mengajak lebih banyak orang. Kalau jumlahnya cukup, setidaknya kita bisa punya posisi di sana.”
Hou San menyambut, “Iya, pasti banyak yang ingin ikut tapi takut. Kita bisa ajak mereka, sekalian jadikan mereka perintis jalan.”
Da Chun langsung menatapnya tajam, “Hou San, barusan kau takut jadi korban, sekarang mau jadikan orang lain korban?”
Hou San tak berani membantah, hanya bisa tersenyum kikuk.
Da Chun menambahkan, “Ingat, aku tidak peduli orang lain, tapi aku, Cheng Dachun, harus jadi orang yang benar.”
Melihat suasana jadi kaku, yang lain segera menengahi, “Kakak Da Chun memang berhati mulia dan adil! Hou San cuma trauma, makanya bicara sembarangan, Kakak jangan diambil hati.”
Da Chun mendengus, “Kuingatkan, jangan sampai terulang!”
Hou San buru-buru bersumpah, “Aku memang salah, takkan ulangi lagi. Aku hukum diri minum tiga mangkuk!”
Setelah menenggak tiga mangkuk, Hou San langsung teler, entah sungguhan atau pura-pura. Da Chun pun meminta seseorang membawanya ke kamar di lantai dua, lalu mereka membahas sedikit soal merekrut orang, kemudian masing-masing kembali ke kamar.
Shi Wunian memanggil pelayan dan bertanya, “Tahu tidak, tugas apa yang tadi mereka bicarakan?”
Pelayan menjawab, “Tuan pasti baru tiba di Kota Shan, ya?” Melihat Shi Wunian mengangguk, ia pun mulai bercerita dengan bersemangat.
Ternyata, tugas terbesar kantor walikota adalah mengelola penambangan bijih besi di barat daya Kota Shan. Namun, sebulan lalu, ada penambang yang menemukan jalur emas. Penambang itu melapor, walikota senang dan memberinya seratus tael perak. Namun, saat penambangan emas resmi dimulai, masalah muncul. Beberapa penambang tiba-tiba hilang. Awalnya disangka mereka mencuri emas dan kabur. Namun, saat tim pencari dikirim, beberapa dari mereka juga tak kembali. Yang kembali bercerita bahwa di dalam lorong tambang mereka menemukan banyak tulang berserakan, diduga adalah sisa-sisa para penambang yang hilang.
Melihat situasi gawat, walikota mengirim tim lagi, kali ini mewajibkan semua bergerak bersama. Baru kali ini mereka menemukan sumber masalah: seekor ular putih sepanjang tiga zhang. Begitu melihat orang, ular itu langsung memangsa mereka. Beberapa pengawal walikota yang mahir pun langsung ditelan bulat-bulat, sisanya lari ketakutan. Para penyintas menduga mereka selamat karena ular itu sudah kenyang. Kini, para penambang ketakutan, tak ada yang berani turun ke tambang. Walikota pun kehabisan akal, sebab ia pun tak tahu sekuat apa ular itu. Maka diumumkan tugas: siapa pun yang bisa membasmi ular putih itu, atau setidaknya menyelidiki kekuatannya, akan mendapat imbalan seribu tael emas dan sebuah kitab ilmu tingkat manusia.
Saat membayar, Shi Wunian memberi sedikit perak lebih pada pelayan, yang langsung mengucapkan terima kasih dengan gembira.
Kembali ke kamarnya, Shi Wunian berpikir dalam hati. Ia sudah punya ajaran “Kitab Hati Agung” dari gurunya, yang jelas lebih tinggi dari ilmu tingkat manusia, jadi kitab itu tidak berharga baginya. Namun, kini ia benar-benar kehabisan uang. Selama dua tahun terakhir di Kota Ping’an, karena mulai berlatih, ia berhasil memburu banyak binatang buruan dan mengumpulkan banyak tanaman obat langka. Semua itu ia jual, dan sekarang, baru sampai di Kota Shan, uangnya nyaris habis.
Jadi, Shi Wunian memutuskan, ia harus memasang target kecil lebih dulu: mengumpulkan seribu tael emas.