Seratus Empat Puluh Satu: Siaran Langsung yang Aneh (6)
Entah apa yang memancingnya, Lian Danni terswa tawa dengan bebas. Namun, mata yang tadinya cerah itu keruh bagaikan tinta, tampak begitu dalam seperti binatang buas berahang lebar yang sedang menunggu mangsa, atau tengah meraung untuk melampiaskan ketidakpuasan di dalam hatinya.
Kemudian, ia terkekeh pelan dengan nada cemoohan yang begitu kentara.
Bagaimana mungkin ada orang yang tidak mencintai uang? Sekalipun ada, sama sekali tidak mungkin mereka merogoh kantong sendiri untuk cuma-cuma memberikan uang kepada orang asing yang tidak dikenal. Pasti ada konspirasi di balik ini semua.
Akan tetapi…… dengan situasinya sekarang, jangankan konspirasi, bahkan jika ini adalah intrik terbuka—di mana mereka memamerkan tujuan mereka secara terang-terangan di hadapan publik—ia tetap harus melanjutkan langkahnya. Ia tidak memiliki jalan untuk kembali.
Kontrak versi elektronik dari siaran langsung Harmoni yang telah ditandatanganinya sebelumnya membuat semuanya telah menjadi keputusan final dan tidak dapat diubah.
Kontrak elektronik yang ditandatangani di internet juga memiliki kekuatan hukum. "Surat perjanjian jual beli diri" ini telah diteken, jadi cepat atau lambat ia harus merelakannya. Ia hanya bisa berharap agar Shu Rou dapat menyelidiki lebih banyak hal, sehingga dirinya tidak terlalu berada dalam posisi pasif.
Jari-jemari yang putih dan lentik membelai lehernya. Di bagian lehernya yang ramping dan tegak bagaikan leher angsa, masih tertinggal sensasi sisa-sisa mati lemas yang membuatnya sadar bahwa rasa tercekik dan situasi canggung barusan bukanlah khayalan, melainkan kecelakaan nyata yang benar-benar menimpanya.
Kira-kira apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ia pun memiliki sedikit tebakan.
Riak kecil bergejolak di lubuk hatinya, sementara matanya yang jernih memancarkan secercah cahaya samar.
Ia sepertinya telah menandatangani sesuatu yang luar biasa.
Jika orang lain yang mengalami kejadian ini, mereka mungkin akan langsung pingsan karena ketakutan di tempat.
Namun, Lian Danni berbeda. Kegembiraan yang tak dapat disembunyikan bergelayut di matanya yang bagaikan seutas sutra, membuat kecantikan wanita itu semakin terpancar. Hal ini membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan, enggan beranjak dari wajah rupawan nan jelita itu demi melihat pemandangan biasa di sekelilingnya.
"Ah—!" Tiba-tiba, sebuah jeritan melengking terdengar dari komputer. Lian Danni mengangkat pandangannya dan melihat layar di monitor telah berubah entah sejak kapan, dengan nuansa visual yang langsung berubah menjadi surealis dan mengerikan.
Di dalam layar yang semula tampak agak sepi dan kosong tanpa seorang pun selain sang penyiar, tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam berbentuk mirip manusia entah dari mana. Posisi bayangan itu tidak jauh dari hadapan sang penyiar. Keduanya—ah, bukan, seorang manusia dan sesosok makhluk tak dikenal—saling berhadapan secara langsung. Ketakutan sang penyiar menembus lensa kamera dan layar, merasuk ke dalam mata setiap penonton.
Hatinya bergemuruh, Lian Danni secara refleks menegangkan seluruh otot di tubuhnya. Apakah itu manusia atau makhluk non-manusia, ia masih bisa membedakannya. Terlebih lagi jika itu disebut sebagai "kekuatan teknologi"—efek khusus visual—maka hal itu sama sekali tidak perlu dipertanyakan lagi.
Produksi efek khusus yang kerap disebut sebagai "efek murahan" tidak mungkin memiliki tingkat realisme semacam ini, apalagi efek yang mampu membuat hati seseorang bergetar dan membeku secara tidak sadar.
Bahkan, jika bukan karena tekadnya yang tergolong cukup kuat, kedua baris giginya yang rapi pasti sudah bergemeretak sejak tadi, saling berbenturan dengan rapat.
Melihat bayangan hitam berbentuk kabut itu, orang-orang akan merasakan kengerian yang membuat bulu kuduk merinding. "Tatapan" dingin telah tertuju pada tubuh Shu Rou sejak kemunculannya, dan tidak pernah bergeser sedikit pun.
Shu Rou sendiri tidak tahu bagaimana cara menggambarkan perasaannya saat ini. Ketakutan, rasa ngeri, kepanikan…… Emosi-emosi negatif ini terus mendesak otaknya langkah demi langkah. Sejak kemunculan bayangan hitam yang aneh dan menyeramkan ini, ia merasa seluruh tubuhnya tidak berfungsi normal dan ada yang sangat salah dengan dirinya.
Meskipun sosok manusia kabut yang aneh ini tampak tidak memiliki sisi depan atau belakang, pada saat ia melihat kemunculan makhluk tersebut, dalam hatinya ia merasa secara misterius bahwa makhluk itu memiliki mata dan dapat melihat ekspresi wajahnya. Oleh karena itu, ia mati-matian menahan diri agar tidak lengah, takut kalau-kalau sedikit saja ia mengendurkan kewaspadaan, nyawanya akan melayang ke neraka.
Tatapan waspada itu menatap lurus ke arah manusia kabut di hadapannya, memfokuskan pandangannya pada area yang kurang lebih merupakan posisi mata makhluk itu, seolah-olah ada sepasang mata di sana yang sedang beradu pandang dengannya. Bahkan untuk berkedip pun terasa menjadi sebuah kemewahan yang tak tergapai. Saat ini ia bahkan tidak berani bergerak sedikit pun. Jeritan tadi tampaknya telah menguras seluruh tenaga dan keberaniannya, membuatnya tidak memiliki keberanian lagi untuk melarikan diri.
Matanya sudah terasa sangat perih, tetapi pihak lawan tidak menunjukkan gerakan apa pun, sehingga ia tidak berani bertindak gegabah. Ia membelalakkan kedua matanya, bahkan tidak berani mengedipkan kelopak matanya sedetik pun, terus menatap lekat-lekat ke arah makhluk itu. Ketakutan di dalam matanya sudah begitu meluap hingga hampir tumpah, tetapi ia tidak berani membuka mulut lagi.
Ia takut jeritannya akan mengejutkan makhluk itu dan merusak "keharmonisan" di antara mereka berdua.
Mata yang perih itu membuat bagian putih matanya mulai memerah, sementara air mata mendesak keluar dari pelupuk matanya. Akhirnya, ia tidak dapat menahannya lagi. Sebutir keringat meluncur turun dari dahinya yang berkeringat akibat ketegangan, lalu masuk ke dalam matanya, membuat Shu Rou secara refleks menutup matanya.
Tepat pada detik ia menutup matanya, bayangan hitam itu bergerak, dan kolom komentar langsung berhamburan menjadi gila-gilaan.
Hanya butuh waktu satu detik, atau lebih tepatnya bahkan kurang dari satu detik, situasi di tempat kejadian mengalami perubahan drastis.
Kesempatan menutup mata yang didapat dengan susah payah itu tidak berani dinikmati lebih lama oleh Shu Rou. Ia menyelesaikan gerakan menutup dan membuka matanya hampir dalam sekejap. Namun, meskipun begitu, semuanya sudah terlambat. Bayangan hitam itu telah mendekatinya, hampir bersentuhan langsung dengan wajahnya. Jarak di antara mereka berdua paling-paling hanya sekitar satu meter. Shu Rou tidak mampu menahannya lagi; karena terlalu ketakutan, ia menjerit histeris, air mata dan ingusnya bercucuran keluar bersamaan, sama sekali tidak menyisakan sedikit pun rupa si gadis imut nan manis sebelumnya.
"To… tolong… lepaskan aku, lepaskan aku……"
"Aku… aku punya uang, aku punya banyak uang……" Shu Rou menangis sambil memohon kepada makhluk itu, memohon agar ia dilepaskan dan tidak disakiti.
Ia mengulurkan tangan untuk meraih tas selempang di tubuhnya, sebuah tas berbentuk anak domba yang sangat lucu, jenis tas yang paling sering ia gunakan. Tas selempang kecil berdesain manis dan menggemaskan itu dipadukan dengan gaun bergaya peri yang imut dan feminin, ditambah dengan pulasan riasan wajah "tanpa riasan" yang penuh perhitungan, maka lahirlah seorang gadis cantik bertema manis.
Sayangnya, semua kelucuan itu kini telah hancur oleh rasa takut dan kepanikannya yang luar biasa.
Produk riasannya adalah barang berkualitas tinggi yang tahan air dan tidak luntur. Meskipun air mata, ingus, dan keringatnya mengalir deras secara bersamaan, riasan di wajahnya sama sekali tidak luntur. Sebaliknya, justru karena ekspresi wajahnya yang begitu mengerikan dan berkerut-kerut, banyak penonton siaran langsung yang dibuat terkejut ketakutan.
Sekalipun takut mati, tidak mungkin sampai setakut ini, bukan?
Sebagian besar penggemar Shu Rou menyukainya karena suara lembutnya yang bermanja-manja serta wajahnya yang tampak manis dan bersih. Namun sekarang…… baik suara centilnya maupun rupa imutnya sama sekali sudah tidak ada lagi.
Yang tertangkap oleh mata mereka adalah wajah yang berkerut dan terdistorsi karena ketakutan. Wajahnya yang hampir mengerut menjadi satu bola tampak sangat cemong, berlumuran ingus dan air mata di seluruh permukaannya, terlihat sangat menjijikkan. Citra bersih dan menggemaskan yang dulu membuat hati mereka berdebar-debar dan menyukainya kini telah hilang, berganti dengan keburukan yang mencengangkan.
Bahkan suaranya pun membuat mereka merasa sangat tidak nyaman di telinga. Mana ada suara manja yang merdu dan menyenangkan? Yang terdengar jelas adalah suara ayam betina tua yang lehernya sedang mencekik, begitu nyaring dan memekakkan telinga.
Shu Rou menjerit dan memohon ampun. Di bawah ancaman kematian, ia bahkan lupa cara memalsukan suaranya, lupa bahwa ia sedang melakukan siaran langsung dan ada jutaan orang yang sedang menonton siarannya di depan layar.
Dirinya yang sekarang bukanlah siapa-siapa, melainkan seseorang yang rela merendahkan diri demi bertahan hidup, bahkan berharap bisa berlutut dan memohon agar pihak lain mengampuni nyawanya serta memberinya jalan untuk hidup.
Membuka suara aslinya saja sudah cukup buruk, tetapi orang yang berada dalam keadaan panik kehilangan akal sehatnya. Jika suara aslinya bagus, mungkin masih bisa dimaklumi, namun suara yang tadinya memang kurang bagus itu, ketika diperkuat oleh rasa takut yang mencekam, tingkat keburukannya bukan sekadar berlipat ganda, melainkan sudah bisa disetarakan dengan senjata sonik tingkat rendah.
Suara asli Shu Rou sebenarnya tidak bagus-bagus amat, kalau tidak, ia tidak akan menggunakan teknik pemalsuan suara setengah matang ini. Justru karena ia yakin bahwa suaranya yang parau dan warna vokalnya yang aneh tidak akan pernah bisa menarik banyak penggemar, ia merasa harus menggunakan cara tertentu, dan pemalsuan suara itulah yang sengaja dipelajarinya demi tujuan tersebut.
Kendati demikian, sementara ia berhasil menarik perhatian dan hadiah dari banyak penggemar, ada juga banyak orang yang merasa jijik dengan suaranya yang palsu itu, bahkan hingga merasa mual terhadap orangnya. Ruang siaran langsungnya di platform Huqu tidak pernah tenang. Seringkali dalam satu malam yang berdurasi tiga atau empat jam, ruang siarannya bisa terlibat keributan sebanyak empat atau lima kali. Keterampilan "menengahi pertengkaran" miliknyapun menjadi mahir berkat masa-masa itu.
Kelompok orang yang biasa memanggil dirinya dengan sebutan "sayang", "manis kecil", "suami", atau "kakak" itu tampak baru saja terbangun dari lamunan mereka. Tatapan mereka kosong, tubuh mereka terhuyung-huyung lemas seolah-olah impian mereka telah hancur berkeping-keping, di mana cairan busuk meledak dari dalam dan menyembur ke seluruh tubuh mereka hingga membuat mereka kehilangan seluruh tenaga dan membiarkan punggung mereka terkulai ke belakang.
Begitu punggung mereka bersandar pada sandaran kursi, mereka seolah-olah tersentak kaget. Secercah emosi melintas di dalam mata mereka yang kosong tanpa jiwa, tetapi dengan cepat menghilang hingga membuat orang lain tidak mampu menebak artinya.
Namun sesudahnya, tindakan mereka justru menunjukkan keseragaman yang aneh, dan emosi yang sempat melintas di mata mereka akhirnya terjelaskan melalui tindakan tersebut.
Itu adalah rasa jijik, keraguan, serta keengganan untuk mengakui kenyataan.
[Sialan! Makhluk apa wanita ini sebenarnya? Dengan suara seperti itu, dia berhasil menipu ku hingga menyerahkan gaji beberapa bulan kepadanya? Dia membeli barang-barang merek ternama, sementara aku hanya makan roti mantou seharga lima sen dan air panas gratis dari pabrik? Dan aku makan seperti itu selama tiga bulan penuh?!]
[Sampah seperti ini, kalau berdiri di hadapannya, aku bahkan tidak akan sudi meliriknya sekali pun. Kalau bukan karena suaranya yang agak unik, apa aku akan mencurahkan perhatian padanya?]
[Ini adalah penipuan! Aku berhak menuntut kembali uang saweran yang telah kuberikan sebelumnya. Bagaimanapun, orang yang ingin ku-sawer adalah seorang gadis yang berbicara dengan nada manja dan berwajah imut, bukan……] Penggemar ini tampak jauh lebih tenang daripada yang lain, tetapi ia juga merasa bahwa uang sawerannya seolah-olah diberikan kepada anjing. Bukankah lebih baik jika uang itu dibelikan barang untuk diri sendiri? Kenapa ia harus menyiksa diri?
Ia merasa telah sangat ditipu, dan bertekad untuk meminta kembali uang yang telah disawerkannya kepada Shu Rou. Sambil merenung sejenak, ia melanjutkan ketikannya: [Bukan makhluk seperti ini!]
Ia hampir muntah! Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih baik, tetapi justru diberikan kepada benda semacam ini.
Manajemen citra wanita ini benar-benar hancur total, terlihat begitu jorok dan menjijikkan hingga tak berbentuk. Dibandingkan dengan suara "manja dan centil" yang dulu, suaranya kini lebih mirip lolongan sekarat seekor hewan ternak, begitu menusuk telinga hingga membuat mereka enggan untuk terus menontonnya lagi. Terlalu buruk untuk didengar!
Sebagian orang merasa marah, sementara yang lain justru tertawa mengejek: [Bukankah ini juga cukup unik? Coba lihat wajah kecil itu, betapa menyedikannya dia. Dan suaranya, memuat sedikit ketegangan di tengah ketakutan, serta secercah harapan di tengah kepanikan. Dia hanyalah seseorang yang merindukan kelangsungan hidup, meskipun penampilannya memang terlihat sangat buruk.]
[Persetan dengan ibumu…… Apakah kamu ini bodoh? Apakah ini yang kamu sebut penampilan yang buruk? Ini namanya menjebak orang masuk ke sini untuk disiksa sampai mati! Aku belum pernah melihat wanita yang begitu menjijikkan seumur hidupku! Mengatakannya sebagai seorang wanita saja sudah membuatku merasa tidak adil bagi para wanita lainnya!]
[Makhluk sialan (hantu) itu sebenarnya mau bergerak atau tidak?! Kalau tidak mau bergerak, berikan alamatnya kepadaku, aku sendiri yang akan pergi ke sana dan menghabisinya! [Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg][Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg][Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg]]
Situasi menjadi sangat kacau. Hanya dalam kurun waktu lima menit, tabiat orang-orang ini telah berubah total. Sebelumnya mereka memanggil dengan sebutan manis seperti "si imut", "sayang", "bayi", tetapi begitu melihat keburukan pihak lawan, sikap mereka berbalik 180 derajat satu demi satu.
Orang-orang yang tadinya memanggil "kakak" dan "adik" dengan begitu akrab kini "berbalik menjadi musuh". Shu Rou seolah-olah telah berubah menjadi musuh bebuyutan yang membunuh orang tua mereka, dan dicerca serta dibenci oleh mereka yang bertindak sebagai kaum "lurus" selayaknya penjahat berwajah buruk dan sangat keji.
Sebelumnya, orang-orang ini bersikap sangat ribut. Mereka adalah sekumpulan pria hidung belang dan penjelajah berpengalaman, yang kata-katanya seringkali dipenuhi dengan tanda bintang sensor. Mereka kerap mengambil keuntungan dari Shu Rou lewat ucapan, dan mata mereka pun "memakan" banyak hal darinya. Namun sekarang……
"Apakah ini yang dinamakan 'semakin cinta semakin benci'?"
"Tidak, inilah hakikat para pria munafik."
Saat kamu cantik dan manis, aku mencintaimu. Saat kamu tidak lagi cantik dan tidak memiliki modal untuk menarik perhatian mereka, mereka akan dengan tanpa belas kasihan mencampakkanmu.
Sementara sang penyiar, jelas-jelas sedang menghadapi situasi yang jauh lebih buruk daripada itu. Wajahnya yang tampak kusut tanpa keindahan sedikit pun, bahkan terkesan menjijikkan, tidak mampu lagi memikat mereka. Suaranya yang melengking menusuk telinga dan tidak lagi terdengar manja serta merdu membuat orang-orang ini bahkan enggan untuk sekadar mempertahankan perdamaian di permukaan, dan langsung memilih untuk saling mencaci maki secara terang-terangan.
Tanpa keraguan sedikit pun.
Masyarakat busuk yang mengagungkan kecantikan dan uang ini sungguh keparat!
Benar-benar menjijikkan.
Lain Danni menurunkan pandangannya. Di dalam tubuhnya, seolah-olah ada seekor kuda darah yang gelisah dan berlarian ke sana ke mari, mengganggu ketenangan hatinya. Jelas-jelas ia sudah sangat mahir dalam menyembunyikan dan menekan rasa jijiknya sendiri, mengapa masih ada perasaan jengkel yang timbul akibat rasa jijik semacam ini?
Bagaikan sesuatu yang hampir lepas kendali, Lian Danni merasa sangat gelisah.
Tiba-tiba, ia membuka kedua matanya. Nyala api yang gelisah tampak membara di dalam bola matanya, seolah-olah goresan tebal telah ditambahkan pada rona warnanya yang cerah. Temperamennya yang memikat berpadu sempurna dengan keindahan tersebut, membuatnya tampak bagaikan siluman penggoda dari neraka yang mampu memikat jiwa dan hati setiap orang hingga membuat mereka enggan untuk berpaling.
Telapak tangannya yang putih mulus tercakar hingga meninggalkan bekas kuku berbentuk bulan sabit.
——
[Makhluk sialan (hantu) itu sebenarnya mau bergerak atau tidak?! Kalau tidak mau bergerak, berikan alamatnya kepadaku, aku sendiri yang akan pergi ke sana dan menghabisinya! [Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg][Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg][Gambar Pisau Berlumuran Darah.jpg]]
Situasi menjadi sangat kacau. Hanya dalam kurun waktu lima menit, tabiat orang-orang ini telah berubah total. Sebelumnya mereka memanggil dengan sebutan manis seperti "si imut", "sayang", "bayi", tetapi begitu melihat keburukan pihak lawan, sikap mereka berbalik 180 derajat satu demi satu.
Orang-orang yang tadinya memanggil "kakak" dan "adik" dengan begitu akrab kini "berbalik menjadi musuh". Shu Rou seolah-olah telah berubah menjadi musuh bebuyutan yang membunuh orang tua mereka, dan dicerca serta dibenci oleh mereka yang bertindak sebagai kaum "lurus" selayaknya penjahat berwajah buruk dan sangat keji.
Sebelumnya, orang-orang ini bersikap sangat ribut. Mereka adalah sekumpulan pria hidung belang dan penjelajah berpengalaman, yang kata-katanya seringkali dipenuhi dengan tanda bintang sensor. Mereka kerap mengambil keuntungan dari Shu Rou lewat ucapan, dan mata mereka pun "memakan" banyak hal darinya. Namun sekarang……
"Apakah ini yang dinamakan 'semakin cinta semakin benci'?"
"Tidak, inilah hakikat para pria munafik."