Bab 87: Di Atas Langit Masih Ada Langit
“Ah, itu Kakak Senior Mu, Kakak Senior Mu sudah kembali!”
Chang Le akhirnya berseru penuh semangat, “Cepat, Zhao Zhao, ayo kita cepat menyusul.”
Tanpa menunggu persetujuan, ia menarik Cheng Zhao Zhao untuk berjalan lebih cepat.
Mu Sheng Xun telah kembali ke perguruan!
Sejak ia muncul di gerbang gunung, kabar ini dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru.
Saat Cheng Zhao Zhao dan Chang Le tiba di perguruan, banyak murid sudah berlari ke sana. Tentu saja, kebanyakan dari mereka adalah murid-murid tingkat rendah.
Para murid perempuan tampak ragu untuk mendekat. Mereka hanya mengelilingi dari kejauhan dengan wajah penuh suka cita, semangat dan kekaguman yang nyaris meluap dari mata mereka.
Tak sedikit juga murid laki-laki yang tampak bersemangat, namun tetap saja mereka tak berani mendekat.
Beberapa murid di antara mereka berseru, “Kakak Senior Mu, bisakah kau memberikan petunjuk dalam berlatih pedang?”
Mu Sheng Xun memiliki wajah dengan garis tegas, tampan dan berwibawa. Hanya wajah itu saja yang sudah menarik perhatian sebagian besar murid perempuan.
Namun, ia tetap memasang wajah dingin. Bahkan dari kejauhan pun, orang bisa merasakan aura menjauhkan diri dari orang asing darinya.
Apa pun yang dikatakan para murid di sekeliling, ia seolah tak mendengar. Langkahnya pun tak pernah berhenti, langsung menuju ke Paviliun Pedang Dewa.
“Ah, Kakak Senior Mu benar-benar dingin dan tak berperasaan... Aku sangat menyukainya,” Chang Le merapatkan kedua tangan di depan dada, ekspresinya benar-benar terpukau.
“Sadar! Sadar!” Cheng Zhao Zhao melambaikan tangan di depan wajahnya, “Kakak Senior Chang, orangnya sudah tidak kelihatan, tahu!”
Baru kali ini ia tahu Chang Le bisa sebegitu tergila-gilanya. Saat melihat Zhao Yuanlang dulu, dia justru tampak ingin menghindar sejauh mungkin.
Chang Le perlahan-lahan menarik kembali pandangannya, namun wajahnya berseri-seri, “Kakak Senior Mu sudah pergi lebih dari tiga bulan. Tiga bulan ini adalah masa tersulitku selama beberapa tahun terakhir. Untung saja ada kau yang menemaniku.”
Cheng Zhao Zhao tiba-tiba mengangkat cermin air di hadapan Chang Le, sambil mencubit pipinya, “Kakak Senior Chang, atau sebaiknya kupanggil Chang Le saja, lihatlah dirimu sekarang.”
Chang Le menatap wajahnya yang agak terdistorsi karena dicubit di dalam cermin, lalu dengan panik menepis tangan Cheng Zhao Zhao, “Selesai sudah, apa aku jadi gemuk?”
Cheng Zhao Zhao menepuk dahinya, “Bukan, kau jadi jelek.”
“Tidak, tidak, dengan begini mana bisa aku menemui Kakak Senior Mu...” Sambil berkata begitu, ia pun meninggalkan Cheng Zhao Zhao begitu saja dan langsung menghilang.
“Chang...”
Cheng Zhao Zhao hanya bisa melongo.
Kekuatan macam apa yang bisa membuat Chang Le berubah total seperti ini?
“Adik Cheng, kau mencariku?”
Suara Zhao Yuanlang terdengar dari belakang, membuat Cheng Zhao Zhao langsung merinding. Ia seketika menempelkan jimat kecepatan di tubuhnya dan berlari pergi tanpa menoleh ke belakang.
Zhao Yuanlang menatap punggung Cheng Zhao Zhao yang terburu-buru pergi, lalu hanya bisa menggelengkan kepala. Setelah itu, ia menoleh ke arah Paviliun Pedang Dewa yang kini dikerumuni banyak murid.
Tatapannya berubah menjadi kelam.
Mu Sheng Xun, akhirnya kau kembali.
...
Paviliun Pedang Dewa memiliki jalanan berliku yang sunyi, dengan medan yang rumit. Memang benar desas-desus di dunia bahwa pendekar pedang tidak ahli dalam membuat formasi, namun karena tempat ini adalah wilayah penting Cangjian, susunannya telah diperkuat selama ribuan tahun, penuh dengan berbagai mekanisme.
“Xiao Xun sudah kembali?” Pengurus Paviliun Pedang Dewa segera mendekat, menanyakan kabar dan memastikan keadaannya.
“Ya, di mana Guru?”
“Tuan Agung sudah tahu kau pulang, beliau sedang menunggumu.”
Di dalam paviliun ada sebuah menara, dibangun dari batu giok putih dan bata kristal biru terbaik. Menara itu bersinar, dialiri air kolam dingin dari atas ke bawah, menyerupai menara tirai air. Selama ratusan tahun, air kolam dingin tak pernah kering, membuat menara itu selalu dipenuhi hawa dingin menusuk.
Menara itu merupakan tempat tinggal para kepala Paviliun Pedang Dewa dari generasi ke generasi. Dulu disebut ‘Untuk Dunia’, namun kemudian oleh Tuan Agung Tianchen diganti menjadi ‘Tujuh Perasaan’, tempat yang sangat sulit dijangkau murid biasa.
Saat Mu Sheng Xun mendekat sambil membawa pedang, kedua alisnya langsung membeku, pelipisnya berselimut embun es, dan napas yang dihembuskannya penuh uap dingin.
Namun ia seolah tak merasakannya, tanpa ragu melintas di balik tirai air dan masuk ke menara.
Pemandangan di depan berubah, hawa dingin di tubuhnya pun langsung berkurang.
Yang terlihat hanyalah sebidang kecil ladang spiritual.
Ladang itu kosong, hanya di bagian tengah ada sedikit tanaman hijau.
Seperti biasanya, Tuan Agung Tianchen sedang merawat sepetak daun lokio spiritual dengan penuh perhatian.
Mu Sheng Xun berdiri diam di samping, tanpa bersuara, tak ingin mengganggu.
Entah sudah berapa lama, akhirnya Tuan Agung Tianchen berdiri dan berbalik, lalu berkata dengan tenang, “Bertahun-tahun lalu, aku menerima seorang murid. Dia sangat pendiam, jika aku tidak mengajak bicara, dia bisa setahun penuh tanpa sepatah kata pun. Kemudian aku memberinya nama Buyan. Dialah Kakak Kedua-mu, Pendekar Pedang Buyan.”
“Salam, Guru!”
Mu Sheng Xun membungkuk memberi hormat.
Tuan Agung Tianchen mengangguk, memandang pemuda di depannya sambil tersenyum, “Namun kau berbeda dengannya. Kau masih mau menemaniku bermain catur dan berbincang.”
Mendengar itu, Mu Sheng Xun menjawab, “Jika Guru berkenan, saya bersedia menemani.”
“Bagus!”
Di ladang itu langsung muncul papan catur yin-yang. Mereka duduk berhadapan, masing-masing memegang pion hitam dan putih.
“Aku dengar kau bertemu banyak kultivator sesat di daerah Cangwu?”
“Hanya segerombolan penjahat kecil, tidak perlu disebutkan.”
“Bisa melenyapkan kejahatan saat berlatih di luar dan tak lupa pada tujuan Cangjian, itu sungguh langka.
Namun, aku ingin mengingatkanmu, sejak kau masuk Paviliun Pedang Dewa dan menjadi muridku, kau sudah memikul tanggung jawab besar.
Sebelum benar-benar siap, kau harus berlatih tanpa pamrih. Meningkatkan kemampuan adalah hal terpenting bagimu. Tak perlu membuang tenaga untuk hal-hal remeh.”
Mu Sheng Xun menatap pedang Liucang di tangannya tanpa berkata apa-apa.
“Apakah ada hasil dari perjalananmu kali ini?” tanya Tianchen lagi.
Mu Sheng Xun terdiam cukup lama, baru menjawab, “Langit selalu lebih tinggi, manusia selalu ada di atas manusia.”
Tuan Agung Tianchen agak terkejut. Muridnya ini terkenal sombong dan keras kepala. Sampai dia bisa berkata seperti itu, pasti ia sudah melihat dunia luar dengan mata kepala sendiri.
“Jika itu Kakak Senior-mu Shaoyuan, pasti dia tak akan berkata begitu. Langit lebih tinggi, maka panjatlah hingga ke langit kesembilan. Manusia di atas manusia, maka jadilah manusia di atas manusia.”
“Kakak Ketiga terkenal di seluruh Tianchu, namanya harum di mana-mana. Sayang aku belum pernah bertemu,” ucap Mu Sheng Xun sambil meletakkan pion.
“Jika Kakak Ketiga-mu tahu aku menerima murid sepertimu, ia pasti akan ikut senang,” Tuan Agung Tianchen meletakkan pion putih, membentuk pola pengepungan.
Pandangan Mu Sheng Xun melintasi Tuan Agung Tianchen, menatap sepetak daun lokio spiritual di ladang.
Melihat Mu Sheng Xun tampak berpikir, Tuan Agung Tianchen berkata, “Sekarang hanya kau satu-satunya murid di Paviliun Pedang Dewa, sungguh sepi. Aku berencana merekrut murid lagi. Menurutmu, sebaiknya murid laki-laki atau perempuan?”
Mu Sheng Xun menoleh, ekspresinya tetap tenang, “Terserah keputusan Guru, saya tidak keberatan.”
“Kalau begitu, urusan ini aku serahkan padamu.”
Mu Sheng Xun sedikit terkejut.
Tuan Agung Tianchen tetap tenang, menjelaskan, “Aku tahu para kakak dan adikmu dulu, meski tampak rukun, tapi hati mereka tidak. Itu salahku karena dulu kurang tegas. Kini aku tak ingin melihat kejadian seperti itu lagi. Maka, murid baru harus bisa akur denganmu sebagai kakak senior. Jadi, lebih baik kau sendiri yang memilih murid yang sesuai dengan perasaanmu.”
Mu Sheng Xun mengerutkan kening, “Guru, saya tidak pandai memilih.”
“Itu mudah. Pilih saja yang tahan pukul...” Tuan Agung Tianchen tanpa sadar berkata begitu.
Wajah Mu Sheng Xun langsung kaku, “Apa dulu Guru memang memilih murid dengan cara seperti itu?”
“Ehm... menurutmu aku orang yang sembarangan?” Tuan Agung Tianchen mengetuk papan catur, “Giliranmu!”