Bab 91: Permata Palsu di Antara Berlian
Zhang Bao langsung berseri-seri mendengarnya.
"Xiaoyue!"
"Xiaoyue!"
Ia berteriak memanggil Su Xiaoyue.
Kalau sedang mencari sesuatu di rumah, Su Xiaoyue memang selalu jadi andalan.
Su Xiaoyue sedang menumbuk arang ketika mendengar panggilan Zhang Bao. Ia segera menghapus keringat di dahinya dan berlari menghampiri.
Melihat wajah Su Xiaoyue yang hitam penuh noda arang seperti anak kucing, Zhang Bao tak kuasa menahan tawa.
Ia mengambil pakaian dan dengan lembut membersihkan wajah Su Xiaoyue.
"Suamiku, masih ada orang lain di sini..." Su Xiaoyue jadi kikuk dengan perlakuan Zhang Bao yang begitu mesra.
"Ada orang?" tanya Zhang Bao.
"Siapa? Aku tak lihat siapa-siapa."
Baru kemudian Zhang Bao teringat bahwa Hu Dugu dan Paman He masih menunggu di samping.
Nampak Hu Dugu memandang ke langit, kening berkerut seperti sedang berpikir keras.
Sementara Paman He ternganga menatap Zhang Bao, berpikir dalam hati, "Sudah di ujung tanduk begini, masih sempat-sempatnya bermesraan dengan istri. Benar-benar santai!"
"Eh, eh!" Zhang Bao berdeham.
"Begini... Hu Tua, kau bawa Xiaoyue, kembali ke rumah lama dan cari belerang, bawa kemari."
"Paman He!"
"Didihkan air di dapur!"
"Nanti kalau Li Daniu datang membawa barang, air itu akan segera dipakai!"
Zhang Bao memberikan perintah pada Paman He.
"Tuan Muda! Ini tanah dari kandang kuda, bubuk arang, belerang, air panas—sebenarnya kau mau buat apa?" Paman He bertanya dengan enggan.
Menurut pikirannya, mereka berempat seharusnya sudah siap dengan delapan bilah pedang, menyerbu orang-orang dari keluarga Li, membabat mereka seperti memotong sayur!
Tapi yang didengarnya, kok malah seperti sedang memasak sesuatu?
Zhang Bao tersenyum tipis.
"Membuat bubuk mesiu, tentu saja! Dengan ini, urusan bisa selesai sekali untuk selamanya."
"Tunggu saja hasilnya!"
...
Pintu utama rumah Zhang Bao tertutup rapat sepanjang malam.
Namun, suasana di dalam terdengar semarak semalaman. Sesekali terdengar teriakan kaget, suara ‘plak-plak’, ‘booom’, ‘aduh wah gila’, ‘hebat sekali’ dan sebagainya.
Orang-orang keluarga Li yang berjaga di luar rumah jadi penasaran ingin mengintip, namun mereka masih takut akan kekuatan Paman He, sehingga hanya bisa mondar-mandir gelisah di luar.
Akhirnya fajar pun menyingsing.
Pintu rumah Zhang Bao baru terbuka.
Zhang Bao keluar paling depan, diikuti Hu Dugu dan Paman He dari belakang. Ketiganya berjalan menuju luar desa.
Sementara itu, Li Daniu ditinggal di desa untuk menjaga Su Xiaoyue.
Kalau-kalau orang keluarga Li nekat mencelakai Su Xiaoyue, setidaknya ada yang melindungi.
"Sampaikan pada tuan kalian, aku pergi ke Gunung Naga Kembar."
"Bilang padanya, tunggu saja di sini dengan baik-baik."
Setelah berkata begitu, mereka bertiga naik kuda dan berlari menuju arah Gunung Naga Kembar.
...
Di kediaman keluarga Li.
Kakek Li akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar kabar Zhang Bao bersedia pergi ke Gunung Naga Kembar.
"Ayah! Sekalipun si Zhang itu bisa membawa pulang Huzi, Huzi sudah kehilangan satu telinga, dia bukan lagi orang yang utuh!"
"Semua ini harus dilimpahkan pada Zhang itu! Kalau bukan karena dia melawan para perampok, mana mungkin kita jadi sasaran mereka?!"
Li Yan yang berdiri di samping tak bisa menahan amarahnya.
"Benar, kau benar!" jawab Kakek Li.
"Sekarang desa kita sudah benar-benar membuat para perampok itu marah. Kalau ingin hidup tenang, kita harus menyingkirkan keluarga Zhang..."
Belum selesai berkata, Kakek Li teringat pada gundik mudanya yang mati ditusuk Paman He.
Kalau kali ini bisa memanfaatkan para perampok untuk melenyapkan Zhang Bao, itu juga bagus!
Dengan begitu, seluruh benteng ini jadi milik keluarga Li!
Sekarang, apa saja bisa kami miliki. Nanti, asalkan bernegosiasi baik-baik dengan para perampok, rutin memberikan sebagian hasil panen, tak akan ada masalah lagi.
"Setelah anak-anak kita kembali, segera cari cara untuk mengusir Zhang Bao dari desa!"
"Sekarang, banyak orang di desa yang sudah mendukung keluarga Li. Bahkan para penyewa tanah keluarga Zhang juga kehilangan anak, mereka juga sangat kecewa!"
"Nanti biarkan anak-anak kecil itu menangis dan mengamuk, aku ingin lihat apakah dia masih punya muka untuk tinggal di sini!"
Kakek Li berkata dengan dingin.
...
Di kaki Gunung Naga Kembar.
Zhang Bao dan yang lain mencari tempat tersembunyi untuk menyimpan kuda mereka.
"Tuan Muda, kau yakin ingin naik sendiri? Bagaimana kalau kita batalkan saja?" Paman He menarik tangan Zhang Bao dengan ragu.
"Tenang, menurutmu kalau aku sudah punya benda itu, aku masih takut pada mereka?!"
"Kau lupa semalam hampir saja paman kencing di celana gara-gara ledakan itu? Para perampok tak sehebat paman!"
"Aku justru ingin naik dan melihat sendiri seperti apa mereka. Kalau bisa kita manfaatkan, mereka bisa jadi kekuatan yang bagus."
Zhang Bao menenangkan Paman He.
Terbayang suara ledakan semalam yang membuat halaman rumah berlubang-lubang, tubuh Paman He kembali bergetar.
Dipikir-pikir, memang masuk akal juga. Ia pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah.
"Aku akan naik sendiri nanti, tinggal lebih lama untuk mengamati keadaan. Kalau lancar, aku akan sandera kepala perampok dan turun bersama!"
"Begitu aku turun, kalian harus siap-siap menjemputku!"
Zhang Bao memberi instruksi.
"Tuan Muda!"
"Tolonglah, hati-hati!"
"Kalau mau melempar, lempar sejauh mungkin!" Paman He mengingatkan dengan cemas.
"Tidak beres! Tuan Muda, lihat ke depan!" seru Hu Dugu sambil menunjuk.
Zhang Bao mengikuti arah telunjuk, namun tak melihat apa-apa. Tiba-tiba ia merasa leher belakangnya dipukul, pandangannya gelap, dan ia pun ambruk.
"Kau sudah gila?! Apa yang kau lakukan?" Paman He membentak Hu Dugu yang baru saja membuat Zhang Bao pingsan.
Dengan tenang, Hu Dugu mengambil bubuk mesiu dari tubuh Zhang Bao dan memasukkannya ke dalam bajunya.
"Tuan Muda terlalu berbahaya jika naik sendiri. Walaupun punya benda itu, cukup satu anak panah di lengan saja sudah lumpuh, sehebat apapun tak akan berguna."
"Para perampok di Gunung Naga Kembar terkenal kejam, tak akan melepaskan kita."
"Jangan lupa, kepala perampok di sana naik tahta dengan membunuh ketua sebelumnya!"
Hu Dugu lalu mengangkat Zhang Bao ke atas pelana kuda, mengikat erat agar tak jatuh saat kuda berlari.
Baru kali ini Paman He menyadari resiko yang ada.
Kalau Zhang Bao benar-benar naik sendiri, bisa-bisa keluarga Zhang benar-benar punah.
"Para perampok belum pernah melihat wajah Tuan Muda, jadi aku yang akan menyamar. Demi mencari tahu keadaan, tak pantas jika Tuan Muda mengambil resiko."
"Paman He, titip Tuan Muda padamu!"
"Andai aku tak kembali, mohon jaga keluargaku di rumah!"
"Kutitipkan segalanya padamu!" Hu Dugu membungkuk hormat pada Paman He.
"Dasar Hu Dugu sialan!"
"Jangan-jangan sejak awal kau sudah merencanakan ini?"
"Dengar, kau harus kembali dengan selamat!"
"Kalau tidak, aku..."
Paman He belum selesai bicara, air matanya sudah lebih dulu menetes.
Walau bersikap keras, Paman He sangat menghargai persahabatan.
Sejak hari Hu Dugu menemani Zhang Bao menyelamatkannya, ia tak pernah lagi menganggap Hu Dugu sekadar penyewa tanah.
Kini mendengar Hu Dugu bilang misinya sangat berbahaya, Paman He benar-benar tak tahu bagaimana harus menghadapi keluarga yang ditinggalkan Hu Dugu jika terjadi sesuatu.
Hu Dugu tersenyum dan tanpa ragu melangkah menuju gunung.
...