Bab 86: Masyarakat Feodal yang Penuh Dosa
Agama memang digunakan untuk mencari uang, hal itu sudah diketahui oleh Li Hang, namun bagaimana cara menipu uang dan menghasilkan keuntungan, ia benar-benar belum paham. Namun saat Wang Xintian menyerahkan daftar pemasukan, meski biasanya Li Hang tak begitu terikat pada harta dan sudah terbiasa meraup puluhan keping uang setiap hari, kali ini ia tak kuasa menahan napasnya yang memburu.
Sebuah baki diletakkan di depannya, berisi batangan perak yang tertata rapi dalam susunan enam kali enam; tampilan perak itu sungguh mengerikan! Berapa banyak perak itu? Tiga puluh enam batangan, masing-masing sepuluh tahil. Artinya, total ada tiga ratus enam puluh tahil. Dan itu pun baru jumlah kecil.
Perlu diketahui, semua itu hasil sumbangan para korban bencana dan para hartawan. Meski yang paling banyak menyumbang adalah para hartawan, tapi jelas sekali, mengapa mereka bersedia menyumbang perak? Karena para hartawan di kota ini memanfaatkan bencana banjir Sungai Kuning untuk membeli tanah para pengungsi yang kehilangan rumah!
Benar! Tidak salah! Penggabungan tanah! Tahun depan, tanah-tanah itu sudah menjadi milik mereka, para petani kecil yang dulu mengolah lahan kini berubah status jadi penyewa tanah. Apakah pantas seorang tuan tanah tidak mengeluarkan sedikit uang untuk berkorban pada dewa sungai? Dan dibandingkan dengan luas tanah yang mereka dapat, uang sumbangan ini tidak ada artinya—bahkan tidak seujung kuku!
Inilah hakikat masyarakat feodal! Li Hang menghela napas pelan, lalu mengambil kertas dan pena untuk mulai menulis naskah upacara persembahan. Namun naskah ini harus ditulis indah. Kenapa demikian? Meski persembahan itu adalah acara bersama, kenapa orang-orang mau menyumbang? Apakah semata-mata karena nama besarnya? Bukan, ini seperti iklan di masa depan.
Dalam naskah persembahan nanti, para tuan tanah pasti akan mengutus perwakilan keluarga mereka untuk hadir. Hal remeh seperti ini pun baru diingatkan berulang kali oleh Bhiksu Huiyun kepada Li Hang, kalau tidak, menurut kebiasaannya, ia hanya akan menulis naskah persembahan untuk Kura-Kura Hitam, lalu menenggelamkan patung itu ke sungai sebagai formalitas.
Bagi seorang ateis, upacara persembahan seperti ini hanyalah cara mencari penghiburan diri. Yang penting, ia sudah menyelamatkan dua anak itu.
Tindakan Li Hang mendapat persetujuan dari Zhou Yurong. Malam harinya, diam-diam ia merapatkan diri ke dada Li Hang, pipinya memerah malu, sementara tubuh mungilnya tanpa sengaja menyentuh dada suaminya lalu buru-buru melengkungkan punggungnya karena malu. “Kakanda, dua anak itu sungguh malang, semoga mereka masih punya keluarga!”
Ada atau tidaknya keluarga tinggal tergantung niat pejabat kecamatan. Sambil membelai pinggang Zhou Yurong, Li Hang sedikit terkejut saat menyentuh punggungnya. “Dua anak itu memang malang, pejabat kecamatan juga bilang akan membantu mencari keluarganya, semoga mereka masih punya kerabat yang tersisa.”
“Ah! Bagaimanapun, kita sudah menyelamatkan dua anak, hanya saja soal memimpin upacara persembahan ini...” Orang lain memimpin upacara tidak masalah, biasanya itu dilakukan oleh orang yang berpangkat tinggi atau berwawasan luas, namun Li Hang berbeda. Ia diakui banyak orang karena konon menguasai ‘ilmu gaib’.
Situasi ini agak rumit. Zhou Yurong bahkan bisa membayangkan, jika kelak Li Hang menjadi pejabat, peristiwa ini pasti akan menjadi noda baginya. Namun bagi gadis tujuh belas tahun, memilih antara menyelamatkan dua nyawa kecil atau masa depan suaminya adalah soal yang sangat sulit.
“Tapi...”
“Tak perlu takut!”
Baik untuk bantuan bencana maupun persembahan, setidaknya dirinya kini terhubung dengan Kota Jinling yang jauh di seberang ribuan li. Dengan punya hubungan itu, berarti ia punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan para pejabat.
Jabatan? Li Hang tak peduli. Sejak zaman dulu, banyak cara untuk memengaruhi suatu daerah bahkan negeri. Tanpa berlebihan, ia kini mampu menentukan jalan kemakmuran bagi ratusan orang. Setidaknya, dengan keberadaan pabrik sabun miliknya, para penduduk desa di sekitar akan terikat dengannya lewat beternak babi. Bila ia memperbesar usaha, mereka akan hidup makmur, namun jika produksinya dikurangi, mereka akan kembali seperti dulu, hanya bertani saja.
Jika pabrik sabunnya diperluas dua kali lipat, yang terpengaruh akan lebih banyak, meski tetap dibatasi oleh buruknya sistem distribusi zaman itu. Tapi kenyataannya, sistem distribusi masa itu sangat buruk! Karena itulah Li Hang terpaksa terus menggunakan jalur pelayaran yang menyusahkan itu.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Di masa ini, belajar adalah satu-satunya cara mengubah nasib, tapi aku tak ingin terlibat dalam urusan istana. Yurong, dunia politik itu sangat berbahaya, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku bisa mengubah hidup kita dengan mudah, tapi ikut campur urusan istana sangatlah naif.” Dengan diterangi cahaya lilin, Li Hang memandangi wajah Zhou Yurong yang cantik dan lembut di hadapannya. Wajahnya semerah bunga persik, matanya bening bak air, pesonanya membuat siapa pun ingin memeluknya erat, membangkitkan naluri pelindung setiap pria.
Li Hang mengelus dagunya, pikirannya sudah melayang ke upacara persembahan dewa sungai yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
Apakah kau kira upacara seperti ini hanya sekadar simbolis, layaknya sembahyang di kuil Dewi Welas Asih atau Buddha di masa kini? Tidak! Upacara besar seperti ini bukan hanya sarana memohon agar terhindar dari bencana, tapi juga menjadi ajang pasar rakyat belasan desa sekitar.
Setiap ada hajatan besar, pasti ada pasar. Namun, karena masih ada dampak banjir, pasti banyak masalah yang muncul. Justru acara seperti ini menjadi solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah-masalah itu, karena semua orang penting sekitar pasti hadir.
Setelah Wang Xintian selesai menyiapkan segala sesuatu, ia datang ke rumah Li Hang dengan sangat hati-hati. Kini, Bhiksu Huiyun yang memimpin upacara besar persembahan dewa sungai, namun Li Hang tetap harus tampil, setidaknya membacakan naskah persembahan. Ada hal lain yang belum ia ketahui, di sana satu desa tewas, penduduk setempat khawatir mereka akan jadi arwah gentayangan. Karena itulah mereka ingin Li Hang hadir, apalagi ia dikenal menguasai ‘ilmu gaib’ dan sangat berwibawa, dipercaya makhluk halus pun akan menjauh.
Dipimpin oleh Li Hang dianggap paling tepat untuk upacara ini.
“Apakah semua jenazah sudah diurus?” Li Hang mengerutkan kening, karena begitu banyak korban jiwa, jika tak diurus baik-baik bisa jadi masalah besar.
“Semua sudah dimakamkan, seperti yang Anda pesan, baik yang sakit maupun yang tenggelam, semua dikebumikan dengan ditaburi kapur,” jawab Wang Xintian. Ia sendiri sempat nyaris celaka, untung Li Hang mencegah para pengungsi, sehingga nyawanya terselamatkan.
Sekarang, meski Ying Qi telah pergi ke perbatasan untuk bertugas, ia dulu pernah tinggal cukup lama di rumah Li Hang, menandakan betapa pangeran itu menghargainya. Jika sampai pangeran menghormati seorang pria, tentu ia bukan orang biasa. Ditambah lagi dengan berbagai keahlian Li Hang, mereka semakin penasaran.
“Tuan Li, silakan mandi, mungkin sebentar lagi giliran Anda!” katanya sambil menyerahkan dua batang dupa cendana, agar Li Hang mandi lalu membakar dupa sebagai pengharum badan.
Melihat dupa cendana di tangan, Li Hang hanya bisa mengeluh dalam hati. Benar-benar keterlaluan. Ini sangat mewah! Selesai mandi, ia mengikuti petunjuk sang bhiksu, menyalakan dupa dan duduk di dalam, mirip sekali dengan orang yang mengisap candu di masa depan. Namun aroma dupa itu memang harum dan lembut.