Bab Seratus Tiga Puluh Tujuh: Santapan Darah
Syuu!
Melihat sosok rekannya berkelebat lalu lenyap dipindahkan oleh formasi teleportasi, pendekar bermarga Kim mengecapkan lidah dan bergumam, “Hmph! Cepat sekali dia melarikan diri. Semua pekerjaan kotor dan melelahkan ditinggalkan kepadaku!”
Dengan kesal ia menggelengkan kepala, lalu mengedarkan pandangan dengan waspada. Raut wajahnya perlahan berubah tegang.
Ia mengangkat cakram formasi dan lebih dahulu menundukkan kepala untuk memeriksa keadaan pertempuran besar di luar. Setelah melihat kedua pihak masih bertarung sengit tanpa keunggulan yang jelas, sementara pendekar berwajah hitam telah ditekan oleh gerombolan besar hantu air hitam yang terus berdatangan, dan untuk sementara tidak akan terjadi perubahan besar, barulah ia mengembuskan napas lega. Ia menyimpan cakram formasi itu, lalu diam-diam berjalan menuju persemaian di samping pondok kayu.
Shidong merasa tingkahnya sangat aneh. Rasa ingin tahu pun bangkit dalam dirinya. Ia mengikutinya secara diam-diam hingga masuk ke persemaian.
Begitu tiba di sana, Shidong tidak dapat menahan keterkejutannya. Tempat itu kira-kira seluas beberapa depa persegi, dipenuhi lingzhi hantu yang tumbuh bertumpuk-tumpuk. Ada yang sebesar telapak tangan, ada yang kecil seperti mutiara, ada yang seluruh tubuhnya hitam legam, dan ada pula yang warnanya beraneka ragam.
Lingzhi hantu itu tumbuh sangat rapat, jumlahnya mencapai beberapa ratus batang. Masing-masing berdiri seperti jamur di atas tanah hitam yang subur, memancarkan aroma obat yang pekat. Persemaian kecil itu pun dipenuhi hawa dingin yang samar.
“Lingzhi hantu ini... jangan-jangan semuanya telah berusia lebih dari seratus tahun?” Shidong menarik napas dingin dan tanpa sadar membelalakkan mata.
“Wah... harta kecilku, lingzhi hantu! Melihat kalian saja sudah membuatku ingin memakan kalian!” seru pendekar bermarga Kim dengan rakus.
Matanya berkilat. Ia berlari menyusuri jalan kecil di antara persemaian, lalu merentangkan kedua tangan dan mengelus-elus lingzhi hantu yang tumbuh subur satu demi satu. Sikapnya seolah-olah ia ingin segera mencabut segenggam lingzhi hantu dan memasukkannya ke mulut.
“Hm? Mengapa orang ini begitu terobsesi pada lingzhi hantu? Mungkinkah ada hubungannya dengan keadaannya yang setengah manusia dan setengah hantu?” pikir Shidong.
Ia mengikutinya dari belakang dengan hati-hati, mengamati apa yang hendak dilakukannya.
Karena di tempat itu hanya ada pendekar bermarga Kim seorang, dengan kultivasi baru tingkat keenam Pemurnian Qi, sementara Shidong bersembunyi dan orang itu berada di tempat terbuka, Shidong tidak terburu-buru menaklukkannya. Ia memutuskan untuk mengamati terlebih dahulu.
Pendekar bermarga Kim terus mengelus lingzhi hantu satu demi satu sampai air liurnya hampir menetes. Gumpalan hawa hitam mengalir naik-turun di wajahnya, membuat penampilannya tampak sangat aneh.
Tiba-tiba ia menoleh ke kiri dan kanan. Setelah itu, ia bergegas menuju pondok kayu. Shidong pun mengikutinya secara diam-diam.
Di dalam pondok kayu, perabotannya sangat sederhana: dua ranjang yang menempel di dinding, sebuah meja kayu, dua kursi, serta beberapa alat seperti cangkul dan sekop yang ditumpuk di sudut ruangan.
Selain itu, ada sebuah tempayan arak besar. Tingginya setara orang dewasa dan lebarnya cukup untuk dipeluk dua atau tiga orang. Tempayan itu berdiri di salah satu sudut ruangan dan tampak sangat ganjil.
Pendekar bermarga Kim membuka penutup tempayan, merogoh ke dalam, lalu mengambil sesuatu yang tidak diketahui Shidong dan memasukkannya ke mulut. Ia mengunyahnya hingga terdengar bunyi krek-krek, kemudian meraih sebuah sekop dan kembali berlari ke persemaian.
Shidong diam-diam merasa heran. Setelah orang itu pergi, ia mendekati tempayan besar tersebut dan menyentuh dindingnya. Permukaannya terasa sangat dingin, dan hawa menusuk langsung merambat ke dalam hatinya. Tiba-tiba ia mendapat firasat buruk.
Ia mengerahkan tenaga, bersiap menghadapi kemungkinan keluarnya sesuatu yang aneh. Dengan lompatan ringan, ia naik ke bibir tempayan, lalu membuka penutupnya sedikit demi sedikit.
Mendadak, aroma darah yang sangat pekat menyembur keluar, bercampur dengan bau arak yang menyengat. Bau aneh itu membuat kepalanya berkunang-kunang, nyaris membuatnya terjatuh dari atas tempayan.
Setelah menenangkan diri, Shidong membuka penutup itu sepenuhnya. Begitu melihat isi di dalamnya, wajahnya seketika memucat. Matanya membelalak, memancarkan keterkejutan, ketakutan, kemarahan, dan rasa jijik yang tak terhingga.
Tiga mayat terbaring di dalamnya. Semuanya gadis-gadis muda yang telah ditelanjangi dan direndam dalam cairan arak merah. Mata mereka terpejam rapat, kulit mereka memutih karena terlalu lama terendam, sementara rambut panjang mereka mengambang ke segala arah seperti rerumputan air yang bergoyang perlahan di dalam arak, seolah-olah masih memiliki kehidupan.
Telapak tangan salah satu gadis telah lenyap, hanya menyisakan sebatas lengan. Potongan itu melayang lemas seperti akar teratai putih, sementara daging merah segarnya mengeluarkan untaian darah tipis yang larut ke dalam arak. Luka itu jelas baru saja ditambahkan; telapak tangannya baru saja dipotong.
“Ke... kenapa bisa begini?” Shidong merasa terkejut sekaligus murka. Melihat semua itu, dadanya terasa sesak.
Ia mencengkeram erat bibir tempayan dan terengah-engah. Rasanya seperti sebentar lagi ia akan kehabisan napas, sementara kepalanya dipenuhi dengungan keras.
“Kenapa? Jangan-jangan mereka adalah para murid muda sekte yang menghilang? Mengapa... mengapa setelah dibunuh mereka masih harus direndam di dalam tempayan arak...?”
Tiba-tiba ia teringat pemandangan ketika pendekar bermarga Kim merogohkan tangannya ke dalam tempayan, mengambil sesuatu, lalu memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya dengan bunyi krek-krek.
Seketika ia memahami semuanya.
Ugh...
Shidong menutup mulut, menahan rasa mual yang bergolak hebat. Ia segera memasang kembali penutup tempayan, lalu melompat turun, takut jika tetap berada di sana sedikit lebih lama, ia akan muntah.
Berdiri di dalam pondok sambil terengah-engah, bayangan mengerikan para gadis yang direndam dalam tempayan masih tampak jelas di benaknya. Amarah pun mulai berkobar dari dasar hatinya, mengalir deras mengikuti aliran darah, bergolak semakin ganas.
“Bajingan! Makhluk pemakan manusia seperti ini hanya akan mencelakai orang bila dibiarkan hidup!”
Shidong mengepalkan kedua tinjunya hingga terdengar bunyi retakan nyaring. Api kemarahan berkobar di matanya yang hitam pekat. Ia melangkah lebar meninggalkan pondok.
Berdiri di depan pintu, ia mengerahkan daya pikirannya untuk menyapu seluruh area. Ia mendapati pendekar bermarga Kim sedang berjongkok membungkuk di hadapan lingzhi hantu sebesar bunga teratai, dengan pantat terangkat dan sebuah sekop kecil di tangannya, mengutak-atik sesuatu.
Shidong menahan amarahnya. Ia berpikir bahwa lawannya bagaimanapun juga berada di tingkat keenam Pemurnian Qi, sehingga ia tidak boleh bertindak gegabah. Lebih baik ia menyelinap mendekat dan menaklukkannya secara tiba-tiba.
Maka ia menahan auranya dan bergerak mengendap-endap dari belakang.
Jarak beberapa depa itu semakin dekat. Shidong kemudian mendengar pendekar bermarga Kim bergumam pelan, “Bayi manis, kemarilah. Makan makanan berdarah ini, maka kau akan tumbuh semakin kuat! Setelah tubuhmu menjadi gemuk dan besar, kita semua akan membagi-bagimu untuk dimakan. Dengan begitu, kita bisa hidup lima puluh tahun lebih lama. Bagaimana, bagus bukan? Hehehe...”
Shidong berhenti di belakangnya dan menundukkan kepala, memandang dari atas.
Lingzhi hantu di hadapan pendekar bermarga Kim ternyata sebesar bunga teratai. Permukaannya rimbun dan dialiri cahaya hitam, seolah-olah telah memiliki kesadaran sendiri.
Hanya dengan memandangnya sekilas, jantung Shidong sudah berdebar tak beraturan. Ia berpikir dalam hati, “Bagaimana bisa ada lingzhi hantu yang tumbuh sedemikian subur? Jangan-jangan usianya telah lebih dari seribu tahun?”
Pada saat pikirannya terpecah oleh hal itu, sosoknya berkelebat. Ia tiba-tiba muncul dari keadaan tak terlihat, sebab masa berlaku jimat penyamarnya telah berakhir.
Tubuh pendekar bermarga Kim mendadak gemetar hebat. Ia melihat sebuah bayangan samar muncul di tanah di hadapannya. Dengan panik ia membalikkan badan dan memandang Shidong, yang berdiri di belakangnya dengan pakaian serba hitam.
“Ka... kau siapa?” teriaknya.
Pada saat yang sama, ia mundur dengan kacau, berusaha menjauh dari Shidong. Namun, telapak kakinya menginjak dan merobohkan beberapa batang lingzhi hantu.
Tatapan Shidong menyapu sekeliling. Ia melihat bahwa di bawah akar lingzhi hantu raja itu terdapat sebuah lubang kecil yang baru digali. Di dalamnya terkubur beberapa jari tangan yang pucat dan ramping.
Amarahnya pun langsung meledak.
Tatapannya yang setajam kilat melesat ke arah pendekar bermarga Kim. Ia mencibir dan berkata, “Akulah orang yang akan mencabut nyawamu!”
Tangannya bergerak. Panji arwah ganas terangkat tinggi, lalu berkibar tertiup angin.
Seketika, angin hitam meraung. Gerombolan arwah ganas melesat keluar sambil mengeluarkan ratapan lirih, lalu menggulung ke arah lawannya.